22
Okt
09

DI BAWAH TERPAL, ASA ITU KUKEJAR

“Tuhan selalu melindungi keluarga kami dalam keadaan sehat.”
Kalimat itu ditulis oleh Sari (9), gadis cilik siswi kelas III Dasar Negeri No 40 Koto Panjang Baruang-Baruang Balantai, Kecamatan Koto XI Tarusan, Kabupaten Pesisir Selatan (Pessel), Sumatra Barat (Sumbar), pada buku tulisnya.

“Ibu guru menyuruh kami para siswa untuk membuat cerita dan pengalaman bencana gempa Rabu lalu,” ucapnya polos kepada ANTARA, Sabtu (17/10) siang.

Menurut dia, kalimat itu adalah ucapan yang doa dilontarkan orang tuanya sesaat usai gempa menghoyak pada Rabu 30 September lalu.

Putri bungsu dari tiga bersaudara itu, merupakan anak dari Buyung berprofesi menjahit, dan Ayek Ati, buruh tani. Rumah yang ditempatinya di Kampung Gurun Jua Nagari Baruang-baruang Balantai, roboh.

Tak cuma itu, mesin jahit kesayangan ayahnya, yang biasa digunakan sebagai penyambung hidup ikut hancur ditimpa reruntuhan dinding tembok rumah yang tumbang.

Alhasil, ia dan keluarga terpaksa tidur dibawah tenda darurat bantuan pemkab Pessel.
Namun, satu yang patut diacungkan jempol kepada keluarga korban gempa ini, mereka tidak larut terhadap bencana yang melanda.

Kedua orangtua Sari, selalu memberikan semangat kepada anaknya supaya tetap terus menuntut ilmu.

“Sari ingin tetap sekolah, ayah-ibu juga terus mendukung keinginan itu,” katanya.

Malah, jarak 500 meter yang ditempuhnya setiap hari menuju sekolah, tidak dihiraukannya.

“Ke sekolah hanya berjalan kaki, itu sudah biasa, kadang bermain ayunan dulu di jembatan gantung,” kata Sari.

Di Sekolah, Sari termasuk siswa cerdas, buktinya, gadis cilik bertubuh mungil ini terlihat dengan mudah menyelesaikan tugas pelajaran Bahasa Indonesia yang diberikan gurunya, Sabtu siang itu.

Tak jarang, ia juga menjadi tumpuan teman sebangku, terutama dalam membantu menerangkan pertanyaan dan bagaimana cara mengerjakan jawaban atas tugas diberikan guru.

“Eit..dak boleh nyontek ya…tadi kan alah Sari ajarkan cara membuat dan menjawab,” candanya kepada teman sebangku yang ingin mencontek kala itu.

Berprestasi
Zuarti, guru Bahasa Indonesia yang juga Wali Kelas III setempat, mengakui kalau Sari memang termasuk siswa cerdas di sekolah tersebut.

“Setiap semester, nilainya selalu saja baik dan masuk dalam sepuluh besar,” kata Zuarti.

Menurut dia, dari ratusan siswa di sekolah itu, rumah milik keluarga Sari merupakan bangunan terparah terkena dampak gempa.
Namun, semagat belajar putri bungsu itu tidak pernah pudar, malah saat hari pertama sekolah, dia termasuk satu dari beberapa siswa yang datang duluan ke sekolah.

“Bu, kita tetap sekolah kan, bu?” tanya Sari bersama beberapa teman-temannya kala itu.

Melihat semangat tadi, para guru segera menggelar rapat kilat, dan memutuskan minta bantuan tenda darurat ke pemkab setempat.

Dan, Alhamdulillah, kita diberi tenda besar oleh UNICEF.

Sekolah Dasar Negeri (SDN) No 40 Koto Panjang Baruang-Baruang Balantai, Kecamatan Koto XI Tarusan, Kabupaten Pesisir Selatan (Pessel), Sumatra Barat (Sumbar), adalah salah satu dari ratusan gedung sekolah rusak akibat gempa.

Akses menuju ke sana, harus melewati jembatan gantung sepanjang 50 meter dipinggir jalan raya Padang – Painan, berlokasi 15 meter dari Pasar Tradisional di Nagari Baruang-baruang Balantai, Kecamatan Koto XI Tarusan.
Kemudian, dilanjutkan dengan berjalan kaki sejauh 500 meter arah timur, hamparan sawah terlihat menyapa disepanjang kiri-kanan jalan menuju lokasi.

Alhasil, seluruh siswa yang rata-rata anak petani dan peladang terpaksa belajar di tenda (sekolah tenda).

“Namun, kita tetap berbangga dan bersyukur, minat belajar dan semangat para siswa tidak hancur seperti gedung sekolah mereka, kehadiran malah mencapai 95 persen setiap harinya,” kata Desnizar, Kepala SDN No 40 Koto Panjang Baruang-Baruang Balantai.

Praktik belajar mengajar (PBM) dibagi atas tiga tahapan, dan dalam satu tenda terdapat dua kelas belajar serempak. “Anak kelas VI dan V, belajar pukul 07:30 – 10:00 WIB, kemudian dilanjutkan anak kelas IV dan III pada pukul 10:00 – 12:30 WIB, sedangkan anak kelas II dan I terpaksa belajar diteras rumah salah seorang warga setempat (dekat sekolah, red),” katanya.

Usulkan Beasiswa
Kepala Dinas Pendidikan Pessel, Dian Wijaya meminta kepada para Kepala Sekolah supaya mendata rumah para siswa berpretasinya yang rubuh akibat gempa.

“Kita minta, sekolah segera mendata rumah para siswa berprestasi yang hancur akibat gempa, karena pemkab bakal mengupayakan bantuan berupa bea siswa kepada mereka,” kata Dian Wijaya kepada ANTARA di Painan, Pessel, Minggu.

Menurutnya, bantuan itu segera direalisasikan dalam waktu dekat.

“Karena, kita tidak ingin, semangat belajar dan prestasi siswa berkurang apalagi sampai hilang akibat bencana gempa,” katanya.

Menyoal perbaikan bangunan, tambahnya, pemkab tengah mengupayakan usulan bantuan renovasi ke pihak pusat.

“Mudah-mudahan segera cair, sekolah yang rusak segera dibangun kembali,” katanya.

Di Pessel, sekitar 120 unit banguan sekolah, ditemui dalam kondisi rusak parah, terbanyak dialami bangunan sekolah dasar (SD).
Di antaranya, gedung Taman Kanak-kanak 4 unit, SD 81, SMP 19, SMA 11, dan SMK 5 unit.

Untuk ruang kelas, tim verifikasi menemukan total kerusakan sebanyak 446 ruang kelas.

Di mana, 117 ruang rusak berat, 132 rusak sedang, dan 197 rusak sedang.

“Khusus Sekolah Dasar, 85 ruang kelas rusak berat, 67 rusak sedang, dan 106 rusak ringan,” katanya.

Menyikapi hal tersebut, Pemkab Pessel sudah menditribusikan sejumlah tenda sekolah bantuan UNICEF, terutama ke sekolah rusak berat.

“Hingga Selasa kemarin, pemkab mendapat bantuan 23 unit tenda sekolah dari UNICEF, sebagian sudah dibagikan, dengan harapan para siswa dapat terus sekolah kendati bangunan gedung mereka hancur,” katanya.

Menyoal kerugian, ucap Dian, pihaknya belum dapat memperkirakan, karena masih dalam perhitungan pihak bersangkutan.

Total bangunan sekolah di Pessel berjumlah 556 unit, terdiri 87 TK, 384 SD, SMP 53, SMA 19, dan SMK 13.

Sedangkan total siswa dari keseluruhan tingkatan sekolah tadi 10.109 orang.

Data Sarkorlak Penanggulangan Bencana Sumbar menyebutkan, dari 1.929 gedung sekolah yang terdata rusak itu, sebanyak 889 unit di antaranya rusak berat dan tidak dapat digunakan lagi.

Baju Putih dikenakannya Sari, memang lusuh dan kedodoran (bukan seukuran, red).

Jilbab, rok, sepatu dan tas sandang hitamnya juga sudah sobek di sana-sini.

Tapi, satu yang patut diacungkan jempol, dia punya semangat, cerdas dan cita-cita.

“Sari ingin jadi tukang insiyur (Arsitek maksudnya, red), supaya bisa membangun rumah Sari yang runtuh, dan membantu ayah-ibu,” akunya polos.
Pengakuan itu, terdengar ibarat ucapan doa dari seorang siswa korban bencana gempa, dia tetap berupaya mengejar cita-cita tulusnya, kendati belajar di bawah sekolah terpal (sekolah tenda bantuan UNICEF).


0 Responses to “DI BAWAH TERPAL, ASA ITU KUKEJAR”



  1. Tinggalkan sebuah Komentar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: