12
Mar
09

Darzin, Pendekar Rusa dari Bayang

Rusa Peliharaan

Rusa Peliharaan

Huiii…,Rusdi, Rosni mandi lai, baok anak-anak tu, alah sore mah, capek, capek(hui, Rusdi Rosni mandi lagi, bawa anak-anak, hari sudah sore, cepat cepat).

Minggu (8/3/09) pukul 16.00 WIB, sinar mentari masih terasa menyengat di Kampung Kubang Nagari Koto Berapak Kecamatan Bayang Kabupaten Pesisir Selatan, Sumbar.

Seorang lelaki tua terlihat bergegas menuju hamparan padang rumput seluas 25 x 25 meter di pinggir sungai Batang Bayang. Ia kembali berteriak..Huiii.

Tak lama, seekor rusa jantan muncul dari balik semak belukar pinggir padang rumput. Kemunculannya diikuti empat ekor rusa lain. Sesaat, ke lima satwa tertegun. Namun tak lama, teriakan itu disahuti lengkingan panjang, oikkk..oekkk..oikkk.

Usai mengeluarkan lengkingan, para rusa berlari menuju ke tengah padang rumput. Satwa melonjak-lonjak dan berkumpul, tak ubahnya mempertontonkan sebuah tarian selamat datang kepada tuannya.

Tak lama, si lelaki tua sampai di lokasi gerombolan rusa. Di tangannya, terlihat sebuah panci plastik hitam berisikan campuran dedak dan sagu. Sambil mengusap kepala rusa, dia berkata; ” Mandi lai, beko makan di tapi batang aia yo (mandi lagi ya, makannya nanti di pinggir sungai saja),” katanya.

Rusa-rusa itu terlihat patuh, dan mengikuti langkah tuannya menuju sungai berjarak 15 meter dari padang rumput dan makan dedak dan sagu bersama dipinggir sungai Batang Bayang.

Lelaki tua tersebut, bernama Darzin (55). Warga Kampung Kubang, memanggilnya dengan ‘Pandeka’, dalam bahasa minang berarti pendekar alias orang mahir memainkan seni bela diri pencak silat.

Kesehariannya, lelaki bertubuh sedang dengan kulit sawo matang ini berprofesi sebagai pedagang ternak. Mulai sapi, kambing, kuda dan lainnya.

Empat tahun terakhir, Pandeka memiliki sebuah kebiasaan unik, yakni memelihara rusa di padang rumput dekat rumahnya. Saking cintanya ke rusa, seluruh satwa tersebut diberi nama kesayangan masing-masing.

Di antaranya, rusa pejantan berumur 4 tahun dinamai ‘Rusdi’, betina dewasa umur 3,5 tahun diberi nama ‘Rosni’, betina muda usia 2,5 tahun dipanggil ‘Rosi’ dan 2 ekor betina kecil umur 8 bulan masing-masing dinamai ‘Rina’ dan ‘Rini’ (anak kembar pertama hasil penangkaran rusa dari induk bernama Rosni).

” Keseluruhan nama sengaja menggunakan huruf “R”, sesuai inisial awal dari rusa,”ucap Pandeka.

Kepedulian kepada rusa, berawal pada tahun 2004. Kala itu, ia mendapati seorang pemburu membawa seekor anak rusa jantan keluar dari hutan Bukik Aia Gadang, dipinggir kampung Kubang.

Rusa jantan kecil itu terlihat terluka dikaki, bekas gigitan anjing si pemburu babi. Entah kenapa, rasa kepeduliannya tiba-tiba muncul saat itu. Ia mendatangi si pemburu dan meminta supaya diizinkan merawat rusa kecil itu.

Awalnya, permintaan ditolak si pemburu. Alasan merawat dan membesarkan rusa, dianggap olok-olok. Pandeka tak berhenti sampai di situ, ia kembali meyakinkan pemburu kalau keinginannya bukan olok-olok. Si pemburu akhirnya percaya, rusa jantan itu pun diberikan dan dirawat sampai sembuh.

Enam bulan kemudian, Pandeka kembali mendapatkan dua ekor rusa betina dari tangan pemburu lainnya, dengan lokasi sama. Bertambahnya jumlah rusa peliharaan, membuat rasa kepedulian guna menjaga satwa langka dari kepunahan, kian mengental.

Ia pun mencoba menularkan rasa kepedulian tadi ke warga sekitar. Berkat pengertian diberikan Pandeka, sebagian besar warga memberikan respon baik. Dan mulai berangsur memahami pentingnya gerakan pelestarian rusa.

Sebuah kesepakatan tak tertulis berlaku di tengah masyarakat, setiap pemburu diminta tidak berburu rusa di hutan seputar kampung Kubang.

Sebab, bisa mengurangi popularitas rusa selaku satwa langka. Kalau menemukan atau mendapat tidak sengaja dalam kondisi hidup , si pemburu diminta kesediaan memberikannya ke penangkaran rusa milik Pandeka.

Sepanjang empat tahun penangkaran, berbagai godaan dijumpai Pandeka. Salah satunya, kedatangan sejumlah orang yang ingin membeli rusa. Harga ditawarkan pun menggiurkan, Rp 25 juta/ekor.

Pandeka tetap Pandeka, ia tidak bergeming melihat uang sebesar itu. Ancaman serta gaya pertakut oknum yang ditolak keinginannya, dihadang. Tekadnya sudah bulat, penangkaran rusa miliknya untuk kelestarian dan pengembangbiakan rusa, bukan bisnis.

Dalam mencarikan makanan, Pandeka dibantu anaknya bernama Alan (13). Bocah yang duduk dibangku kelas I SMP 4 Bayang tersebut, setiap pagi mengeluarkan rusa dari kandang, mencari rumput dan dedaunan di sekitar kampung Kubang. Siangnya, tugas mencari sagu dan dedak dilakukan Pandeka. Sebab, Alan harus berangkat ke sekolah (belajar siang).

Satwa piaraan itu, diberi makan empat kali sehari. Pagi, diberikan dedak campur sagu. Siang, diberikan rumput. Sore, dedak campur sagu dan Malam, diberikan kembali rumput dikandang sederhana tak jauh dari padang rumput.

Rusa di Kubang termasuk jenis Sambar (Cervus unicolor). Berwarna coklat kehitaman dengan bulu yang panjang, dua tanduk bercabang kiri kanan bisa mencapai satu meter pada rusa jantan, bobot satwa dewasa mencapai dua kuintal dengan panjang badan (kepala sampai ujung badan) 1,7 sampai 2,7 meter.

Rusa merupakan satwa yang mudah kaget dan stres, bila mendengar suara keras atau kejadian-kejadian tidak biasa. Ketika terkejut, hewan mamalia itu biasanya akan meloncat tinggi.

Tapi, tidak bagi satwa piaraan Pandeka. Rata-rata terlihat jinak serta tidak mudah stress. Padahal, padang rumput lokasi bermain berada di pinggir (bawah) jalan raya yang dilalui beragam kendaraan bermotor.

“Kalau boleh berharap, saya punya satu keinginan. Pemerintah mau membantu meningkatkan status penangkaran ini menjadi lokasi konservasi khusus rusa,”katanya.

Darzin pantas menyandang gelar pendekar. Dia tidak cuma pelestari rusa, tapi ingin berbuat lebih ke kampung halamannya. Obsesi pembuatan konservasi rusa, merupakan ide yang layak dipertimbangkan pihak dinas pariwisata setempat. Wisata alam ke konservasi rusa di Kampung Kubang, Koto Berapak, Bayang, Pesisir Selatan, Sumbar ! (*)


5 Responses to “Darzin, Pendekar Rusa dari Bayang”


  1. 1 smalamgantuk
    Maret 12, 2009 pukul 11:39 am

    apolo yang ka diberangan… dak ado carito do, marlboro light sabungkuih. Kironya pulang tu pai mancari itu yo.. baelah… hahahahahaha

  2. Maret 30, 2009 pukul 9:51 am

    Ma tulisan abi tiva ko yang baru lai…..? alah takananang sae mah…..

  3. April 19, 2009 pukul 8:59 am

    salam kenal uda,rancak bana blog uda ko ma

  4. 4 pincurantujuah
    Juli 14, 2009 pukul 12:50 pm

    PADANG, METRO
    Satnarkoba Poltabes Padang ringkus gembong ganja asal Aceh yang membawa 30 kilogram ganja

    kering. Gembong bernama Muhibbudin (27) ditangkap di daerah Batipuah Panjang, Kecamatan

    Koto Tangah, Kota Padang pada Selasa siang kemarin (14/7) bersama seorang kawannya

    Irwansyah (30) yang merupakan warga Rantau Prapat, Sumatera Utara.

    Aksi gembong antar Propinsi ini cukup rapi, 39 paket ganja kering yang di bawanya

    disembunyikan di bawah dasbor, sekat pintu serta di bawah mesin mobil Daihatsu Xenia yang

    dengan nopol BK 1398 YI. Khusus untuk yang di bawah mesin, pelaku mengikatnya dengan kawat

    agar tak jatuh. Ada delapan paket yang disembunyikan di sana. Selebihnya tersebar di

    beberapa bagian mobil lainnya.

    Muhibbudin mengaku kalau ganja tersebut sudah ada pemesan. Dia tinggal mengantarkannya

    saja. Namun, pria yang di Kecamatan Padang Tijie, Provinsi Aceh bekerja sebagai petani itu

    enggan menyebutkan siapa orang yang telah memesan barang haram itu. Dia lebih memilih

    bungkam, tubuhnya menggigil karena takut.

    “Ganja ini dari Aceh, sudah tiga malam saya menempuh perjalanan untuk sampai ke Kota

    Padang. Saya mau menjualnya. Di Aceh, harga sekilo ganja hanya Rp.200 ribu, sedangkan di

    sini harganya melambung tinggi hingga Rp.1 juta. Siapa yang tak tergiur dengan selisih

    harga fantastis itu. Di kampung, saya hanyalah petani kecil. Kehidupan keras, karena itu

    saya nekad menjual ganja” ucap Muhibbudin yang mengaku baru sekali ini menjual ganja.

    Sedangkan Irwansyah hanya bisa melongo, tukang becak itu tak menyangka kalau mobil yang

    dikemudikannya mengangkut 30 kilogram ganja. “Saya hanya disewa untuk mengantarkan

    Mahbuddin. Saya tak tahu kalau dia membawa ganja. Sebelum pergi, saya sempat pamit kepada

    orang tua saya, Sungguh, saya tak tahu apa-apa. Kalau tidak ditangkap, mungkin selamanya

    saya tak akan tahu,” ujar Irwansyah dengan polos.

    Bukan perkara mudah bagi aparat untuk menciduk gembong lihai ini, butuh penyelidikan

    sekitar satu bulan untuk mengungkapnya. Saat mau dihentikan di jalan raya batas kota,

    pelaku malah tancap gas. Aksi kejar-kejara tak terelakan, tembakan peringatan yang

    diberikan aparat tak digubris pelaku. Gas semakin dalam mereka injak. Sesampainya di

    gerbang SMA Negeri 7 Padang, pelaku membelokan mobilnya dan masuk ke jalan sempit.

    Aparat tak mau terkecoh, bak aksi polisi di Film laga Hollywood, kejar-kejaran berlangsung

    menegangkan. Warga yang melihat berhamburan menjauh dari badan jalan. Hampir 15 menit

    kejar-kejaran, akhirnya laju mobil Xenia warna hitam pelaku terhalang truk pasir di daerah

    Batipuah. Mereka terpaksa menyerahkan diri.

    Aparat pun segera menggeledah tubuh pelaku, namun tak mendapatkan apa-apa. Diatas mobil

    juga tak ada barang haram. “Tapi anggota tak mau terkecoh dan memeriksa secara detail.

    Ternyata ganja disembunyikan di bawah dasbor dan di bawah mesin. Mainnya rapi,’ terang

    Kapoltabes Padang Kombes Boy Rafli Amar didamping Kasatnarkoba AKP Yudie Sulistyo kepada

    wartawan.

    Kanit Narkoba Poltabes Padang Ipda Hendri R yang turun langsung ke lapangan mengatakan,

    pelaku sudah diintai sejak sebulan belakangan. Dari informent, aparat mengetahui kalau

    kemarin siang, kedua pelaku alan masuk ke Kota Padang. “Taktik segera kita susun. Anggota

    dikerahkan. Hasilnya, kita berhasil meringkus gembong beromset puluhan juta ini,” kata

    Hendri R.

    Tak pelak, atas perbuatannya, kedua pelaku diganjar hukuman berat. Dengan wajah tertunduk,

    keduanga memasuki sel tahanan Poltabes Padang. “Mereka sudah melanggar pasal 72 dan 78

    Undang-Undang Psikotropika. Ancaman hukumannya 20 tahun penjara. Kita akan memburu siapa

    penadah barang di Kota Padang,” terang Kapoltabes Padang.(od)penjara.

  5. 5 evalina
    Oktober 27, 2012 pukul 6:02 pm

    KETIKA HEWAN LIAR MENJADI PELIHARAAN TIDAK ADA KETAKUTAN HEWAN L;IAR TERSEBUT INI YANG MENJADI BERBAHAYA


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: