07
Jun
08

Kisah Pilu Sepeda Biru …

Sepeda balap tuaSEPEDA balap tua itu, terlihat kian lusuh. Tersandar di sudut lokasi parkir Unit Laka Poltabes Padang Jalan Mangunsarkoro. Basah dipercik hujan. Kering disengat terik mentari. Cat birunya, mulai terkelupas. Sekujur batang besinya mulai digerogoti karat di sana-sini.

Sepeda itu milik Asprizen (26). Lelaki lajang warga Pasir Ulak Karang Padang Utara Kota Padang. Ia korban kecelakaan lalu lintas pada 8 Mei 2008 lalu. Persisnya, di Jalan Jhoni Anwar Ulak Karang pukul 11.30 WIB. Goresan dibatang besi sepeda bekas diseruduk Vespa bernopol BA 7091 J ditunggangi lelaki paruh baya, Zulbakri.

Asprizen berasal dari keluarga serba kekurangan. Tinggal dipemukiman nelayan pantai Ulak Karang. Berjarak 10 meter dari bibir pantai. Rumahnya miris sekali. Berdinding papan tua lapuk. Lantainya berpasir. Diruang tamu, tersusun acak sofa usang. Sobek disana – sini. Tempelan kertas kado beragam didinding. Sepertinya disengaja sebagai pemanis. Penutup lobang – lobang bekas girikan kumbang.

Ia merupakan anak ke 4 dari 7 bersaudara. Walau belum punya pekerjaan tetap, tamatan SMA ini tak mau memberatkan keluarga. Kerja serabutan dilakoninya. Terkadang rezki itupun diberikan ke orangtua. Sekadar bantu-bantu belanja adik-adiknya.

Nasib naas menimpa Asprizen, berawal kala dirinya berencana memperbaiki sepeda yang rusak. Dari rumah, ia menuju bengkel. Malang baginya, sebuah vespa meluncur kencang. Dan, Brukk…brakk….

Asprizen maupun Zulbakri, terjatuh. Parah bagi Asprizen, ia terbanting keras ke aspal dan meringis. Beberapa bagian tubuhnya (Zulbakri juga) luka. Tanpa hiraukan darah menetes dari tangannya, ia bangkit dan menuju sepedanya. Upaya memindahkan sepeda dari jalan gagal. Sepeda ternyata tidak bisa lagi didorong. Velg depannya bengkok.

Sedang Zulbakri, berhasil bangkit dan mendorong vespanya ke pinggir. Keduanya sama-sama berpandangan. Sama-sama panik. Tak tahu apa dikerjakan. Sesaat, warga setempat berdatangan. Asprizen mengalami luka lebih parah dibanding Zulbakri, diantar ke rumah sakit terdekat. Vespa dan sepeda, ditinggal/titip di rumah warga.

Asprizen merasa ada yang ganjil dikakinya sesampai di rumah sakit. Kaki tadinya masih bisa digerakkan, tiba-tiba terasa berat dan kaku. Keterangan Menurut pihak medis; kakinya mengalami “tendon”–urat besar putus. Jalan pengobatannya harus dioperasi.

Kepanikan mulai merasuki pikirannya. Operasi jelas membutuhkan biaya besar dan mahal. Sedang dirinya, orang tidak mampu. Entah kebetulan atau kenapa, Zulbakri yang kala itu ikut mengantar ke rumah sakit tampil bak ‘hero’. ” Jangan cemas dik. Semua biaya biar saya tanggung. Dan kecelakaan ini kita selesaikan saja lewat jalan kekeluargaan ya,” katanya kala itu.

Panas di kepala Asprizen, sontak hilang. Kepercayaan dirinya kembali tumbuh. ” Terima kasih,” jawab Asprizen. Semenjak saat itu, ia menginap di RS M Djamil Padang. Sebab, ia yakin kalau semua biaya bakal ditanggung Zulbakri.

Sayang, ucapan ternyata cuma basa-basi. Hari berganti hari. Si penunggang Vespa tak pernah lagi muncul serta menjenguk Asprizen. Kesal, pihak keluarganya pun mendatangi Unit laka lantas Poltabes.
Selain melapor, rencananya juga ingin menanyakan sepeda miliknya yang dibawa petugas—usai kecelakaan.

Sesampai disana pihak keluarga Asprizen kaget. Sebuah laporan kecelakaan atas nama pelapor Zulbakri, ikut terbaca. Disana tertera kalau yang salah dari kejadian tadi adalah Afrizen—sesuai laporan pihak Zulbakri dibaca Eri dan Anton (kakak Afrizen). Nah, lho…

Tak mau disalahkan, aksi saling lapor pun terjadi. Dua orang yang semua berencana menempuh jalan damai (kekeluargaan) terhadap kasus kecelakaan tadi, akhirnya terlihat berseteru. Penyebabnya hanya satu: soal janji yang diingkari.

” Ini jelas sangat menyakitkan Pak. Bayangkan, untuk menebus harga obat serta biaya pengobatan orangtua saya terpaksa ngutang sana-ngutang sini. Semua terpaksa dilakukan. Karena yakin, pinjaman tadi segera terlunasi dari uang pergantian Zulbakri,” keluh Anton, Sabtu (7/6/2008 ) sore.

Biaya rumah sakit tadi, tambahnya, berjumlah total Rp 6 juta-an. Plus obat rawat inap, keluarga ini terpaksa merogoh kocek Rp 8 Juta-an. Sebuah harga yang cukup besar dan berat bagi keluarga ini. ” Sedang si penabrak terlihat acuh. Ia justru hanya bersedia membantu Rp 1 Juta. Dengan alasan, perkataan dirumah sakit terdahulu tidak berkekuatan lengkap. Tidak ada hitam diatas putih,” kata Anton

Keluarga ini hanya berharap, pihak polisi mau membantu dirinya. ” Kami berharap, kasus ini secepatnya dilimpahkan ke pengadilan. Karena, hanya pengadilanlah yang dapat membuktikan kebenaran,” katanya lagi.

Kasat Lantas Poltabes Padang melalui Kanit Laka Ipda Irwandi menyebut, setiap perkara jelas bakal berujung ke pengadilan. Begitu juga dengan perkara sepeda Vs Vespa ini. ” Hingga kini, penyidik masih melakukan penyelidikan intensif terhadap perkara ini. Hanya, dulunya mereka pernah berencana berdamai. Penyidik mungkin tengah menunggu upaya itu. Soalnya, perdamaian justru berguna bagi siapa yang bersalah nantinya di pengadilan. Terutama untuk meringankan tuntutan mereka. Tapi untuk diingat, tidak ada dalam undang-undang yang menyebutkan kalau perdamaian menutup kasus hukum. Setiap berkas bakal dikirim ke Kejaksaan,” tegas Irwandi.

Sepeda tua itu, tetap saja membisu. Benda ini terlihat terharu mendapati nasib pemiliknya. Janji dibantu, eee…justru diajak berseteru.(tos)


9 Responses to “Kisah Pilu Sepeda Biru …”


  1. 1 vinnamelwanti
    Juni 12, 2008 pukul 4:03 am

    Kenapa menghadirkan kabar yang membuat kami PILU….

  2. Juni 18, 2008 pukul 2:47 pm

    gmn kabarnya si “sepeda biru”

  3. Juni 21, 2008 pukul 8:29 am

    Hi Da tos piye kabare..
    Dimana sekarang dirimu..
    Kenapa sih tidak jujur kepada reni..Kalau ternyata?
    Tapi sukses deh untuk Da Tos di tempat yang baru…
    Sekarang udah dak kangen lagi sama si kecil kan?
    Oia gmn dengan melon-melon yang mau ditanam ?
    jangan lupa dikirim ke kantor ya kalau udah panen..

  4. Juni 22, 2008 pukul 1:19 am

    bang sepeda biru wak tambah lusuah….karano ndak ado bang caliak-caliak lai. lai sehat bang

  5. 5 renimaldini
    Juni 30, 2008 pukul 7:44 am

    Hi, da tos mana postingan terbarunya..
    sibuk sekalinya di tempat yang baru…
    Sukses selalu ya

  6. Juli 10, 2008 pukul 10:05 am

    Mantap sepeda tu mah yuang
    Lai bisa dipasan sepeda tu?
    untuk dijadikan koleksi….
    YANG LEMAH TETAP TERTINDAS..

  7. Juli 18, 2008 pukul 3:22 am

    Ternyata kabar itu menuju ANTARA bang tos dengan sebuah komitmen….
    Moga sukses selalu…

  8. 8 sonialis
    Juli 24, 2008 pukul 2:13 pm

    Dima Kini Da………..! Mailang sae Mah??????? Main sapeda awak lah….. Bilo nonton konser lai?

  9. 9 smalamgantuk
    Februari 13, 2009 pukul 12:53 pm

    kama se bang? wak caliak di ikaraga motor BA 5164 GE jo lai ado. tapi urangnyo dak ado do? kama lah nyo ko ha?… eh tau-taunyo lah di padang se…. Iyolah. kahilangan gubalo lah anak itiak ko lai… hahahahahaha……… thanks bros….


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: