12
Mei
08

Inflasi Tidak Terhindarkan

PJI 012PEKANBARU—Memasuki tahun 2008, perekonomian Indonesia dihadapkan kepada tantangan yang berat. Gejolak perekonomian global dan lonjakan harga komoditi dunia, khususnya minyak, CPO dan komoditi pangan lainnya terus saja terjadi.

Demikian dikemukakan Deputi Gubernur Bank Indonesia, Budi Mulya dalam Workshop Perbankan bertajuk “Inflation Target Framework” di Hotel Sahid Pekan Baru, (10/5/2008 ). Acara yang dihelat Perhimpunan Jurnalis Indonesia (PJI) Pekan Baru tadi, dihadiri Ketua Umum PJI, Ismed Hasan Putro.

Budi Mulya menyebutkan, harga minyak terus mencatat rekor kenaikan. ” Bahkan, malam tadi waktu New York (Jumat 9/5/2008), minyak mentah telah menembus rekor baru sebesar $125 per barel, atau jauh meningkat dibandingkan levelnya di awal tahun lalu di sekitar $80-90 per barrel,” katanya.

Sementara itu, berdasarkan laporan Badan Pangan Dunia (FAO), stok pangan dunia menyentuh level terendah dalam 20 tahun terakhir. Ini berakibat Iangsung kepada lonjakan harga pangan. Harga gandum dan beras naik 2 kali lipat dibanding tahun lalu, sementara harga jagung naik 3 kali lipat.

Faktor global lain yang Iangsung maupun tidak Iangsung mempengaruhi dinamika perekonomian adalah kemerosotan ekonomi US dan turbulensi pasar keuangan dunia. Akibatnya, perlambatan ekonomi yang disertai kenaikan inflasi secara global tidak terhindarkan.

Sebagai perekonomian terbuka, Indonesia tentu tidak kebal dari dinamika perekonomian global. Di pasar keuangan, harga saham dan harga SUN terkoreksi. Di pasar barang, terjadi ketidakseimbangan demand-supply menyusul stagnasi pertumbuhan kapasitas sektor produktif.

Picu Spekulasi

Kenaikan harga komoditas memicu aksi spekulasi. Berbagai kondisi tersebut bermuara pada meningkatnya tekanan inflasi, terkoreksinya pertumbuhan ekonomi dan menurunnya kesejahteraan masyarakat. Khususnya lapisan menengah ke bawah.

Lonjakan harga minyak—menembus level $125 per barrel, meningkatkan faktor ketidakpastian atas sustainabitas fiskal terkait dengan kenaikan beban subsidi. Kenaikan harga minyak tersebut telah memaksa pemerintah untuk merevisi asumsi harga minyak-nya di dalam APBN dari $85 menjadi $95.

Secara regional, lonjakan inflasi juga terjadi di seluruh daerah. Di Sumatera, inflasi menyentuh 9,7% (yoy). Sementara itu, di kota Pekanbaru, inflasi melonjak hingga 8.8% (yoy).

” Kenaikan tekanan inflasi telah memengaruhi daya beli masyarakat sehingga indikasi perlambatan ekspansi ekonomi domestik semakin kuat. Sumber tekanan inflasi memang sangat diwarnai gejolak eksternal. Namun, kenaikan tekanan inflasi, khususnya kelompok inti, juga tidak dapat dilepaskan dari peran faktor domestik terkait dengan kenaikan permintaan kelompok barang non-pangan,” ungkap Budi.

Akibatnya, ketidakpastian dan risiko perekonomian meningkat. Keyakinan investor di sektor riil dan keuangan terhadap prospek perekonomian menurun. Upaya untuk mendorong pertumbuhan ekonomi dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat harus dilakukan. Tentunya dengan tetap menjaga kestabilan inflasi pada tingkat yang rendah.

Dilandasi pertimbangan tersebut, otoritas ekonomi perlu merumuskan kembali strategi kebijakan yang tepat dan terpadu guna meminimalkan tekanan eksternal maupun domestik.

Yakni; kebijakan moneter diarahkan untuk mengendalikan permintaan domestik dalam rangka meredam risiko lonjakan inflasi di 2008 dan upaya mencapai sasaran inflasi yang rendah serta berkelanjutan. Dengan pertimbangan tersebut, RDG Bank Indonesia baru-baru ini menetapkan kenaikan BI Rate 25 bps menjadi 8,25 persen disertai dengan strategi optimalisasi penyerapan ekses likuiditas perekonomian melalui OPT dan didukung komitmen kuat dalam menjaga stabilitas nilai tukar rupiah. Langkah ini diperlukan untuk mengembalikan kepercayaan pasar dan upaya pengendalian tekanan ekspektasi inflasi.

Kemudian, kebijakan fiskal perlu diarahkan untuk memperbaiki prospek kesinambungan fiskal, terutama melalui strategi penerapan subsidi yang Iebih tepat sasaran, terutama untuk kebutuhan pokok bagi golongan masyarakat berpenghasilan rendah, serta upaya menjaga kecukupan pasokan kebutuhan pokok. Dan, perbaikan struktural dalam mengatasi kekakuan sisi penawaran juga sangat penting agar kebijakan fiskal dan moneter secara efektif mampu mendorong “mesin” ekonomi dan bukannya malahan menimbulkan ketidakstabilan di jangka pendek.

Dalam konteks strategi tersebut, Bank Indonesia akan senantiasa menjalankan tugasnya sebagai penjaga gawang stabilitas sesuai Undang- undang yang diamanahkan kepadanya. ” Meskipun demikian, tanggung jawab pembangunan ekonomi tidak hanya terletak dipundak Pemerintah dan BI semata. Setiap komponen bangsa memiliki peran dan tanggung jawab yang sama besar dalam menjaga dan memelihara perekonomian Indonesia,” pungkas Budi.(tos)


3 Responses to “Inflasi Tidak Terhindarkan”


  1. Mei 13, 2008 pukul 6:47 am

    Mana Oleh-oleh dari Pekan baru nya Pak??? He he….

  2. Mei 13, 2008 pukul 6:51 am

    Mana oleh-oleh daru Pekan baru Pak?? He he…

  3. Desember 23, 2008 pukul 5:45 am

    bersiap-siap untuk menunggu kehancuran kapitalisme…


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: