30
Apr
08

Larang Pembangunan, Belasan Amak-amak Hadang Dump Truk

Foto akbar-eksekusi di jalan khatib 9PADANG—Lagi-lagi ricuh masalah tanah. Belasan amak-amak (ibu-ibu tua) terlihat histeris di sebidang tanah di jalan Khatib Sulaiman Padang (persisnya di seberang kantor BKSDA Sumbar), Kamis (24/4) pukul 11.00 WIB. Mereka memaki dan melarang dump truk bermuatan batu menumpuk muatannya di sana. Tragisnya, ada yang nekad berjibaku dengan tidur dibawah truk.

” Ini tanah kami, tidak ada seorang pun yang boleh membangun tanpa seizin kaum Chaniago,” teriak Upik–salah seorang dari ibu-ibu tadi sambil tidur di belakang truk (bawah ombeng peluncuran muatan).   

Melihat aksi tadi, belasan rekan sejawatnya berlaku sama. Tak pelak, sopir dump truk berisi batu-batu besar pesanan si pemilik tanah ‘ngeper’ (cemas). Jalanan sontak macet ulah perlakuan nekad amak-amak tersebut. Untungnya, petugas dalmas Poltabes Padang cepat bertindak. Dengan sigap, aksi dapat diredam. Truk akhirnya bisa membongkar muatannya di sana.

Sesaat kemudian, para amak-amak ini kembali mengamuk. Sambil melontarkan sumpah serapah ke petugas, mereka kembali mendekat ke onggokan batu-batu tadi. Ricuh lanjutan pun tak terelakkan. ” Woi petugas, ini tanah kami. Kaharudin telah mencurinya. Kaum kami (Chaniago) adalah pemilik sah. Bukan dia (Kaharudin),” teriak salah seorang dari amak-amak di sana.

Teriakan tadi memancing emosi salah seorang pemuda. Entah panik atau kesal, ia langsung memungut sebongah batu tadi dan mengarahkan ke petugas. Melihat itu, petugas terpaksa mengamankan dirinya. Kondisi baru mulai kondusif sekitar pukul 12.00 WIB.

Lurah Lolong Belanti, Asniyati Hosen menyebut, aksi tersebut bermula dari keinginan si pemilik tanah bernama Muin Rangkayo Balai selaku mamak Kapalo waris suku Sikumbang dan Kaharudin membangun tanah miliknya tadi.

” Rencananya, hari ini (Kamis) si pemilik bermaksud memulai membangun pagar di atas tanah tadi. Tapi tiba-tiba, dump truk bermuatan batu pondasi pagar dihadang belasan amak-amak tadi,” katanya di lokasi.

Dikatakan Asniyati, selaku lurah, dirinya telah mengatakan ke mereka (para amak-amak suku Chaniago) perihal pembangunan ini. Naifnya, mereka tidak bisa menerima. Dan menuding kalau Lurah telah ‘pro’ (mendukung) ke Kaharudin. ” Sekali lagi saya tegaskan, dalam persoalan ini tidak ada istilah pro atau kontra. Selaku Lurah, saya hanya menjalan tugas memberitahu ke warga kalau di sana akan ada pembangunan dari pemilik tanah,” ujarnya.

Menyoal kepemilikan tanah, terang Asniyati, sesuai putusan Mahkamah Agung dulunya (tahun 2001), sengketa kepemilikan antara Muin Rangkayo Balai selaku mamak Kapalo waris suku Sikumbang dan Kaharudin dengan belasan suku Chaniago yang mendiami tanah, dimenangi pihak Muin Rangkayo Balai.

Sekitar tahun 2005, sejumlah lokasi tanah-tanah sengketa tadi juga sudah dieksekusi. Termasuk lokasi ini (samping pembangunan gedung baru Telkomsel). Tapi entah apa penyebab pastinya, kericuhan terjadi hari ini. ” Saya juga bingung jadinya melihat aksi nekad belasan amak-amak suku Chaniago tersebut,” urainya.

Hingga pukul 14.00 WIB, titik terang dari kericuhan belum diketahui secara pasti. Kendati emosi para amak-amak terlihat mereda, umpatan kedongkolan sesekali masih terdengar terlontar dari mulut para amak-amak tersebut. Petugas dari Poltabes Padang juga terlihat berjaga-jaga.(tos)


0 Responses to “Larang Pembangunan, Belasan Amak-amak Hadang Dump Truk”



  1. Tinggalkan sebuah Komentar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: