04
Apr
08

Kejati Sumbar Bidik Dua Kasus Usang

Winerdy Darwis-Rizal MoenirPADANG—Tekad untuk kembali membongkar kasus-kasus usang, akhirnya dibuktikan jajaran Kejaksaan Tinggi Sumbar. Buktinya, dugaan penyelewengan pelumas di Pertamina Padang sepanjang 2002 hingga 2003 dan dugaan penipuan bernilai ratusan juta rupiah pada 2004 di Kabupaten Pasaman Barat, kembali dibidik. Sejumlah saksi-saksi, mulai dimintai keterangannya.

” Semua, tak lepas dari upaya Kejaksaan Tinggi Sumbar, untuk menuntaskan kasus-kasus tunggakan yang masih tertinggal (belum tuntas penyidikannya, red),” ujar Kepala Kejaksaan Tinggi Sumbar Winerdy Darwis, Rabu (4/3/2008).

Kasus Pertamina

Disebutkan Winerdy, dalam penyidikan dugaan penyelewengan pelumas di Pertamina Padang 2002 – 2003, saksi yang telah dipanggil yakni Mairil. Ia merupakan penjaga gudang pelumas. ” Saksi ini, diperiksa jaksa penyidik Koswara SH MH secara marathon semenjak kemarin (2/4/2008 hingga 3/4/2008). Saksi lainnya, menyusul dalam pemanggilan berikut yang dijadwalkan minggu besok,” katanya.

Dugaan penyimpangan pendistribusian pelumas di Pertamina cabang Padang pada 2002 – 2003 itu, terkuak dari hasil operasi intelijen pihak Kejati Sumbar. Pelumas yang seharusnya disalurkan lebih dahulu ke depot, justru di jual bebas ke sejumlah toko dan penjual eceran. Padahal, prosedurnya, pelumas yang diangkut kapal tanker dari Jakarta ke pelabuhan Bunguih tadi, pendistribusiannya harus melewati depot yang telah ditentukan sebelumnya.

Selain itu, pembeli juga harus menyetor uang ke bank ditunjuk terlebih dahulu—untuk bisa mendapatkan DO (Delivery Order) pembelian.
Disamping tidak prosedural, penjualan tadi ditenggarai telah merugikan badan usaha milik negara (BUMN) itu. Apalagi, uangnya tidak pernah disetor masuk kas bendahara. Malahan. masuk ke kantong oknum pelaku. Akibat penyelewengan sekitar 23.000 liter pelumas tadi, kerugian ditaksir Rp 1 miliar.

Pada Agustus 2007, tiga tersangka ditetapkan. Yakni Agustin (53), warga Jalan Binjai KM 9,5 Kampung Lalang Medan—karyawan PT Pertamina Daerah Pemasaran I Medan, Unit Pelabuhan Deli.  Selanjutnya, Suhatril (56), warga Wisma Indah VI Blok B/17 RT 21/ VII Kelurahan Kalumbuak—karyawan PT Pertamina Daerah Pemasaran I Medan dan Firman Syakban (53), warga Perumahan Lubuk Intan Blok C No 2 Lubuk Buaya—karyawan PT Pertamina Daerah Pemasaran I Medan.

Ketiga tersangka, ditengarai telah melanggar Pasal 9 junto Pasal 18 Ayat (1) huruf b UU No 31 Tahun 1999 yang telah diganti dan dirubah dengan UU Nomor 20 Tahun 2001 junto Pasal 55 Ayat (1) ke 1 KUHP.

Sementara, saksi yang telah diperiksa—semenjak penyidikan 26 Desember 2005–-yakni Khairul Karim (Pengawas Administrasi Keuangan Pertamina cabang Padang), Adlis Saad ( Pegawai Terminal Transit Teluk Kabung Bungus), Djoko Suprianto (Kepala cabang Pertamina Padang), Agus Zega (Petugas Gudang Pelumas Pertamina di kantor Bypass), seorang Notaris—namanya enggan disebut karena merupakan saksi ahli—, Jufri, Idham Ali (keduanya karyawan Pertamina), Zakira Mawi (mantan Manager Internal Audit Pertamina Daerah Unit Pemasaran I Medan), Edi Kardian (mantan Kepala Terminal Transit Teluk Kabung) dan Era Tisna (tenaga kontrak bagian operator komputer yang mengetik laporan pengawasan depot Pertamina Taluak Kabuang).

Mafia Anggaran

Sementara, untuk dugaan kasus penipuan bernilai ratusan juta rupiah pada 2004 lalu di Kabupaten Pasaman Barat, lanjut Winerdy, saksi lanjutan telah diperiksa yakni Edi Busti (Kabag Umum Pasaman Barat). Selaku saksi, ia diperiksa jaksa penyidik T Muzafar SH pada (1/4 hingga 2/4) di Kejaksaan Tinggi Sumbar.

Dugaan mafia anggaran ini muncul, jelasnya, berawal dari masuknya laporan salah seorang kontraktor (nama dirahasiakan). Ia menyebut, dirinya telah tertipu janji muluk seorang oknum pejabat Pemkab Pasaman Barat pada 2004.

Si oknum, kata kontraktor pelapor sebagaimana dikatakan kembali oleh Winerdy, telah mengiming-imingi akan mendapatkan sebuah proyek, dari bantuan bencana alam bernilai miliaran rupiah. Namun, syaratnya harus menyetor uang tunai sebesar Rp 750 juta ke rekening pejabat tersebut, sebelum proyek didapatkan. Apa lacur, setelah uang disetor proyek tadi ternyata fiktif. Kesal merasa dikerjai, kasus ini dilaporkan ke Kejati Sumbar.

Belum ada tersangka dalam kasus ini. Sedang saksi yang dimintai keterangan; Mirwan Pulungan (mantan Kabag Humas Pemprov Sumbar), Drs Zambri (Mantan Pj Bupati Pasaman Barat), Edi Busti (Mantan Kasubag Hubungan Antar Pemda dan Bagian Hub Biro Pemerintahan Sekprov), Helmi Erwaldi (Pejabat Pemkab Pasaman Barat), Tamsir Jr (Kepala cabang PT Powertell Engginering), Suryadi (swasta), Syafrudin (rekanan Lubuak Sikapiang), Joni Indra (rekanan Padang) dan Abdul Jabar (rekanan Pariaman). Dulunya, saksi dari luar Sumatera nyaris dipanggil. Konon, ia merupakan saksi kunci berinisial AM dan seorang anggota DPR RI (nama disamarkan).(tos)


0 Responses to “Kejati Sumbar Bidik Dua Kasus Usang”



  1. Tinggalkan sebuah Komentar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: