27
Mar
08

Mantan Wakadisnakertrans Sumbar Ditahan

FuadiPADANG-Giliran mantan Wakadisnakertrans Sumbar ditahan Jaksa, Kamis (27/3/2008) pukul 17.55 WIB. Fuadi SH merupakan kuasa pengguna anggaran (KPA) dalam kasus dugaan tindak pidana korupsi penyelewengan dana APBN kegiatan penyiapan pemukiman transmigrasi di Dusun Tangah Solok Selatan dan Padang Hilalang Dharmasraya tahun anggaran 2006 lalu. 

Tersangka Fuadi terlihat mendatangi Kejaksaan Tinggi Sumbar di Jalan Raden Saleh Padang pukul 09.00 WIB. Didampingi penasehat hukum Khairus SH, dirinya langsung memasuki ruang jaksa penyidik Basril G SH. Fuadi dicecar sejumlah pertanyaan hingga pukul 17.00 WIB (8 jam).

Pukul 15.45 WIB, lelaki paruh baya ini terlihat minum obat di ruang penyidik. Ia pun sempat minta izin untuk melaksanakan Shalat Ashar ke Mushola yang ada di komplek Kejati pukul 16.00 WIB. Wajahnya terlihat pucat saat itu. Akhirnya, pukul 17.55 WIB Fuadi digiring ke mobil tahanan kejaksaan untuk dikirim ke Lapas Muaro Padang. Dia menyusul rekanan pekerjaan itu, H Achyarman MM, Dirut PT Pembangunan Sumbar yang ditahan Kejati Sumbar 17 Maret pukul 22.12 WIB lalu.   

Kasus dugaan tindak pidana korupsi penyelewengan dana APBN dalam kegiatan penyiapan pemukiman transmigrasi di dusun Tangah Solok Selatan dan Padang Hilalang Dharmasraya ini, mencuat ke Kejati Sumbar setelah pihak intelijen mendapatkan laporan dari LSM pada 29 Januari 2007. Setelah diperoleh data pendukung, penyelidikan ditingkatkan menjadi penyidikan. Sejumlah pejabat Disnakertran Sumbar pun mulai dimintai keterangan.

Dalam penyelidikan, ditemukan indikasi dugaan tindak pidana korupsi selama pelaksanaan pekerjaan. Penyelesaian pekerjaan seluruhnya pada 31 Desember 2006, dianggap tidak masuk akal.
Alasannya, pada 20 Desember 2006 pekerjaan baru selesai terealisasi dengan bobot 53,77 persen (untuk kegiatan P4T di Padang Hilalang Dharmasraya). Sedangkan kegiatan P4T di Dusun Tangah Solok Selatan, sebesar 58,01 persen.

Untuk kegiatan P4T di lokasi Padang Hilalang, pelaksanaan pekerjaannya dilakukan PT Pembangunan Sumbar. Diperkirakan Jaksa, kerugian negara sekitar Rp 1.351.427.740. Sedangkan untuk P4T Dusun Tangah, dikerjakan PT Riau Rancang Bangun dengan kerugian negara sekitar Rp 1.008.350.085.

Jalankan Perintah Atasan

Hingga akhir pemeriksaan, Fuadi terlihat tegar dan tabah. Kalau tersangka sebelumnya enggan menjawab pertanyaan wartawan, ia justru sebaliknya.
“Walaupun saya sudah menjalankan pekerjaan sesuai perintah atasan, saya tetap bangga dengan penahanan yang diberikan penyidik ini,” ujar Fuadi saat digiring ke mobil tahanan.  


Untuk diketahui, kata Fuadi, dirinya tidak ada melakukan korupsi dalam dugaan kasus tersebut.  Itu cuma penyimpangan prosedur saja. Karena saat itu, warga sudah masuk dan mulai menghuni perumahan di proyek tadi—warga sudah masuk 100 persen. “Saya juga tidak pernah membuat berita acara telah selesainya proyek 100 persen seperti dituduhkan,” ucapnya lantang. 

Dalam hal kelanjutan pembangunan proyek, terangnya, juga sudah merupakan persetujuan serta izin dari Gubernur Sumbar—Acc surat rekomendasi Gubernur diketahui Dirjen Nakertran pusat.  Menyoal dana proyek, tambah Fuadi, juga tidak ditangannya. Dana terletak di rekening Disnakertrans Sumbar (bendahara).

” Kalau saya dituding bersalah dalam dugaan kasus ini, saya jelas menolak. Karena yang paling bersalah adalah; Dirjen Nakertrans, Gubernur Sumbar dan Kadisnakertrans Sumbar. Atas persetujuan merekalah kelanjutan proyek ini dilaksanakan,” tegasnya.

Tersangka Baru Menyusul

Pernyataan tegas kalau dirinya tidak bersalah dan bukan yang paling bertanggungjawab dalam dugaan kasus tadi, dibantah pihak kejati Sumbar. “Itu kan ucapan dan pernyataan versi tersangka. Bagaimana itu bisa dikatakan pasti, penyidik saja masih terus menyidik kasus ini. Dan lagi, keterangan sejumlah saksi masih diperlukan guna penyempurnaan berkas,” ujar Kajati Sumbar Winerdy Darwis SH MH kepada wartawan.

Ditambahkan Winerdi, ke tiga pihak yang disebutkan tersangka ini pun sementara belum terlihat ada sangkut-pautnya dalam dugaan kasus—indikasi keterkaitan belum terlihat. “Yang jelas, penahanan sudah dilakukan sesuai prosedur. Dari beberapa orang saksi yang sudah dimintai keterangan, masih ada yang bakal dijadikan tersangka,”tukasnya.

Aspidsus Kejati Sumbar M Rum SH menegaskan, pada 17 Desember 2006 pekerjaan proyek baru 46,68 persen. Bersama pihak rekanan, tersangka Fuadi selaku Kuasa Pengguna Anggaran (KPA) telah membuat berita acara pemeriksaan (BAP) seolah-olah proyek selesai 100 persen. Otomatis seluruh dana proyek cair.(tos)


3 Responses to “Mantan Wakadisnakertrans Sumbar Ditahan”


  1. Maret 29, 2008 pukul 9:51 am

    Aslkm….mudah2an penegakkan hukum bisa adil, tidak pandang bulu.

    salam kenal da.

  2. Maret 29, 2008 pukul 9:52 am

    Aslkm…salam kenal da.

    mudah2han penegakan hukum bisa adil dan tidak pandang bulu

  3. 3 shanty
    Februari 4, 2009 pukul 10:54 am

    pa kabar om??

    dah lama ga kliatan

    ngliatan putu mulut mu itu jadi kangen…

    hua..ha..ha…

    piss dah!!

    gw rindu para tetua yang rajin berantem jaman di Polda dulu..

    uhuy…


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: