13
Mar
08

Rekanan Kasus Kakao ‘Dideadline’

240px-Theobroma_cacao-frutosPADANG-Kepala Kejaksaan Tinggi Sumbar Winerdy Darwis SH MH bakal menjemput paksa Direktur CV Bintang Zeva Siti Arifah, rekanan dalam kasus proyek pengadaan bibit kakao Dinas Perkebunan (Disbun) Provinsi Sumbar tahun 2005. Sikap tegas ini segera diberlakukan kalau yang bersangkutan masih tidak mengindahkan pangggilan ke 3.

” Ya, kalau saja dalam panggilan ke 3 nanti (Selasa 11 Maret 2008) ia masih tidak datang, sikap tegas berupa jemput paksa jelas bakal kita berikan kepada rekanan ini. Tidak itu saja, fotonya bakal ditampilkan disejumlah media massa dan statusnya pun diputuskan masuk dalam daftar pencarian orang (DPO) pihak Kejati Sumbar,” tegas Winerdy, Kamis (6/3/2008) di Kejati Sumbar.

Disebutkan Winerdy, sebelumnya pada pemangilan ke 2 pada Rabu 5 Maret 2008, Siti Arifah terlihat masih mangkir.Pihak penyidik pun masih bersifat persuasif. Kepadanya dilayangkan ulang surat panggilan ke 3 (sehari sesudahnya). Padahal, keterangan dari saksi rekanan ini jelas sangat membantu upaya penyidikan kasus dugaan korupsi pengadaan bibit kakao ini.

Seperti diberitakan sebelumnya, Penyidikan dilakukan setelah Kepala Kejaksaan Tinggi Sumbar —Ridwan Darmansyah SH— dengan resmi mengeluarkan Surat Perintah Penyidikan Nomor : Print-44/N.3/Fd.1/02/2007 tertanggal 12 Pebruari 2007. Penyidikan berdasarkan laporan dugaan tindak pidana korupsi (dilaporkan pada hari Rabu tanggal 7 Pebruari 2007).

Laporan tadi menyatakan adanya indikasi awal terjadinya tindak pidana korupsi pada pengelolaan kegiatan pengembangan tanaman kakao senilai Rp 800 juta dari APBD Sumbar Tahun Anggaran 2005. Dana proyek seharusnya digunakan untuk pembelian bibit kakao sebanyak 1.000.100 batang.

Kenyataan di lapangan, hanya 160 ribu batang saja yang ditanam. Proyek seharusnya selesai Desember 2005, tapi sampai masuk 2006 proyek belum tuntas. Dikerjakan rekanan CV Bintang Zeva dengan sistem penunjukan langsung, tanpa tender. Dalam pelaksanaa proyek ini, terdapat dokumen fiktif. Pencairan dana dituntaskan saat pekerjaan belum terlaksana seratus persen.

Proyek ini tersebar pada sejumlah tempat. Seperti di Kabupaten Limapuluh Kota, Kabupaten Sawahlunto Sijunjung, dan Kabupaten Tanahdatar, serta Kota Padang. Dalam kasus ini, sejumlah saksi sudah dimintai keterangan. Tiga tersangka pun sudah ditetapkan. Diantaranya; Ir Syuhil Noer (mantan Kepala Dinas Perkebunan Sumbar), Ir Fachron (Kasi Sarana Produksi Subdin Sarana dan Prasarana) dan Yasril Syukur (mantan Kasubdin Sarana dan Prasarana Dinas Perkebunan Sumbar)—ke tiganya diinapkan di lapas Muaro Padang. 

Naifnya hingga berita ini diturunkan, berapa kerugian negara masih belum dapat dipastikan secara rinci. Karena menurut pihak Kejaksaan Tinggi Sumbar selaku penyidik, data jelasnya masih menunggu hasil audit BPKP setempat.(tos)


0 Responses to “Rekanan Kasus Kakao ‘Dideadline’”



  1. Tinggalkan sebuah Komentar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: