21
Nov
07

Dari Kunker Komisi C DPRD PADANG ke Kabupaten Badung, Bali (1)

Melirik Keunikan untuk Perubahan Padang

Tidak dipungkiri, penataan (wilayah) Kota Padang masih belum seperti yang diharapkan. Masih banyak yang perlu diperbaiki. Guna mencarikan solusi, para wakil rakyat kota Padang mencoba mencari perbandingan ke daerah dan provinsi yang dianggap layak di contoh. Kali ini, Provinsi Badung di Bali pun di lirik. Dengan harapan dapat menjadi inpirasi untuk perubahan perwajahan Kota Padang ke depan.

Setelah beristirahat semalam di penginapan, Jumat (16/11) rombongan kunjungan kerja dari DPRD Padang disambut jajaran pemkab Badung. Tepatnya pukul 09.00 WITA, ke 19 orang anggota rombongan dijamu di ruang Teratai Kantor Bappeda Kabupaten Badung jalan Mulawarman No.3 Lumintang Denpasar.Rombongan yang dikomandoi Wakil Ketua DPRD Kota Padang Z Panji Alam terdiri; Afrizal (Ketua Komisi C), Zulfahmi HR St Sati (Wakil Ketua), Djunaidi Hendry ST (Sekretaris), Daharuddin, Ir Priyanto, Drs Faizal, Idrial Idrus ST, Syafrial Oyong, Jamasri, Albert Hendra Lukman SE, Syafrizal Gazali, Zulfadli Tanjung (keseluruhannya anggota Komisi C).Selain itu, Ir Harmen Feri (Kadinas TRTB Kota Padang), Basyaruddin S Sos (Kabag Keuangan Sekretariat), Drs Fabian Sekretariat, Syam Putra Jaya (Sekretariat). Dan diterima Asisten I Pemkab Badung Wisnu Bawa Temaja dan Wakil Ketua DPRD Kab Badung I Gusti Putu Kamandhi.Dalam temu ramah tersebut, Wisnu memaparkan, Kabupaten Badung adalah satu dari delapan kabupaten dan satu kota di Bali. Secara fisik mempunyai bentuk unik menyerupai sebilah “keris” layaknya senjata khas masyarakat Bali. Keunikan ini kemudian diangkat menjadi lambang daerah. Dan secara langsung merupakan simbol semangat dan jiwa ksatria. Ihwal ini pun sangat erat hubungannya dengan perjalanan historis wilayah ini, yaitu peristiwa “Puputan Badung”. Semangat ini pun kemudian melandasi motto Kabupaten Badung yaitu “Cura Dharma Raksaka” yang artinya kewajiban pemerintah adalah untuk melindungi kebenaran dan rakyatnya.

Kabupaten Badung terletak pada posisi 08o14’17” – 08o50’57” Lintang Selatan dan 115o05’02” – 115o15′ 09″ Bujur Timur, membentang di tengah-tengah Pulau Bali. Mempunyai wilayah seluas 418,52 km2 ( 7,43% luas Pulau Bali ), Bagian utara daerah ini merupakan daerah pegunungan yang berudara sejuk, berbatasan dengan kabupaten Buleleng, sedangkan di bagian selatan merupakan dataran rendah dengan pantai berpasir putih dan berbatasan langsung dengan Samudera Indonesia. Bagian tengah merupakan daerah persawahan dengan pemandangan yang asri dan indah, berbatasan dengan Kabupaten Gianyar dan kota Denpasar disebelah Timur, sedangkan di sebelah Barat berbatasan dengan kabupaten Tabanan.

Kabupaten Badung merupakan daerah berikilim tropis yang memiliki dua musim yaitu musim kemarau (April – Oktober) dan musim hujan (Nopember – Maret), dengan curah hujan rata-rata pertahun antara 893,4 – 2.702,6 mm. Suhu rata-rata 25 – 30oC dengan Kelembaban udara rata-rata mencapai 79 %.

Secara administratif Kabupaten Badung terbagi menjadi 6 ( enam ) wilayah Kecamatan yang terbentang dari bagian Utara ke Selatan yaitu Kecamatan Petang, Abiansemal, Mengwi, Kuta, Kuta Utara, & Kuta Selatan. Disamping itu di wilayah ini juga terdapat 16 Kelurahan, 45 Desa, 1 Desa Persiapan, 361 Banjar Dinas, 148 Lingkungan dan 13 Lingkungan Persiapan.

Selain Lembaga Pemerintahan seperti tersebut di atas, di Kabupaten Badung juga terdapat Lembaga Adat yang terdiri dari 119 Desa Adat, 523 Banjar dan 523 Sekaa Teruna. Di Kabupaten Badung juga terdapat 1 BPLA Kabupaten dan 6 BPLA Kecamatan serta 1 Widyasabha Kabupaten dan 6 Widyasabha Kecamatan. Lembaga – lembaga adat ini memiliki peran yang sangat strategis dalam pembangunan di wilayah Badung pada khususnya dan Bali pada umumnya.

Sebagaimana lazimnya sebuah lembaga, anggota masyarakat adat ini terikat dalam suatu aturan adat yang disebut “awig – awig”. Keberadaan awig-awig ini sangat mengikat warganya sehingga umumnya masyarakat sangat patuh kepada adat. Oleh karena itu keberadaan Lembaga Adat ini merupakan sarana yang sangat ampuh dalam menjaring partisipasi masyarakat. Banyak program yang dicanangkan Pemerintah berhasil dilaksanakan dengan baik di daerah ini, berkat keterlibatan dan peran serta lembaga adat yang ada. Termasuk pencapaian restribusi sesuai ditargetkan.

” Badung atau Provinsi Bali umumnya sengaja dibikin unik. Segala sesuatunya berwawasan adat, budaya dan agama. Tak ubahnya daerah lain, sistem pemerintahan juga unik. Dimana, setiap desa adat (kelurahan) dipercaya untuk mengelola daerah masing-masing. Kita pemerintah hanya memantau, mengarahkan kinerja serta tidak ikut campur dalam pengelolaan. Karena, masyarakat Bali khususnya yang beragama hindu sangat patuh dan taat dengan sanksi adat dibanding sanksi lainnya. Seluruh keunikan tadipun kami jadikan sebagai salah satu ciri khas di sini,” terang Wisnu.

Begitupun mengenai pembangunan, tambahnya. Di Badung, setiap pembuatan bangunan baru dilakukan sebuah upacara adat. Model bangunannya pun diarahkan sesuai adat. ” Dalam artian, seluruh pembangunan yang dibuat pengembang maupun investor tidak boleh keluar dari ketentuan adat dan budaya. Begitu juga dalam pengelolaan wisata. Kalau tidak, bakal dikenai sanksi. Yakni sanksi adat dan pemerintah setempat. Seluruh keunikan inilah yang membuat Badung ataupun Bali berbeda dari kota lainnya di Indonesia,” pungkas Wisnu.(*)


0 Responses to “Dari Kunker Komisi C DPRD PADANG ke Kabupaten Badung, Bali (1)”



  1. Tinggalkan sebuah Komentar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: