12
Nov
07

Kaki Gajah Ancam Sumbar

Awas ! semua jenis nyamuk bisa menularkan penyakit kaki gajah. Sebaris kalimat tadi terlihat ditulis dengan huruf besar di selembar pamflet keluaran dinas kesehatan. Tak dipungkiri, tulisan tadi membuat warga yang membaca, merinding.

Kalimat tadi bukanlah untuk menakut-nakuti. Hanya berupa himbauan agar masyarakat lebih memperbaiki lagi pola hidup sehat mereka. Dan memperhatikan kalau-kalau masih ada lokasi kurang sehat dilingkungan tempat tinggal mereka.Kalau ingin lebih mengetahui lagi apa itu penyakit yang dari bahasa kesehatan bernama filariasis tadi, pihak Dinas Kesehatan juga akan memutarkan video khusus dampak serta bahaya penyakit menahun tersebut. Dengan harapan, para warga mau diambil sampel darah jarinya untuk diperiksa pihak kesehatan setempat. Sebab, kesadaran akan pentingnya dilakukan pemeriksaan, masih saja minim.Sekadar diketahui, selain rentan penularan penyakit pun bersifat menahun. Dalam kondisi kronis, penyakit kaki gajah akan menyebabkan penurunan produktivitas kerja si penderita. Potensi penularan tinggi. Terutama di daerah-daerah yang memiliki perindukan nyamuk dan sumber penular (penderita). Apalagi, semua jenis nyamuk bisa berperan menjadi vektor penular penyakit. Jumlah penderita terus bertambah karena potensi penyebarannya sangat besar.

Penyebab; rendahnya kesadaran hidup sehat, penyebaran juga disebabkan buruknya sanitasi serta kondisi lingkungan tempat tinggal yang masih belum mengenal kebersihan. Penanggulangan terhadap penyakit ini membutuhkan kerja sama banyak pihak. Pengobatan tidak akan bermanfaat jika kebersihan lingkungan tempat tinggal kurang mendukung. Penyakit yang menyebabkan cacat seumur hidup ini, jelas merupakan ancaman serius bagi masyarakat. Dari situs Depkes RI, sebuah daerah dinyatakan endemis bila dari 500 orang yang diperiksa ditemukan lima kasus (satu persen).

Data Dinas Kesehatan Sumbar 2005, 163 warga telah terserang Penyakit Kaki Gajah. Tersebar di 10 Kabupaten/Kota. Hasil survei menunjukkan penyakit kaki gajah paling banyak ditemukan di Pasaman Barat, yakni 47 penderita. Selain itu, kabupaten Pesisir Selatan (33 orang), Kabupaten Kepulauan Mentawai (24 orang), Kabupaten Agam (24 orang), serta di Padang Pariaman, Tanah Datar, Dharmasraya, Sawahlunto Sijunjung, Limapuluh Kota dan Kota Padang.

Sedang dari mapping (survei pemetaan) yahun 2006; bertambah menjadi 11 Kabupaten/Kota di Sumbar. Yakni, Kabupaten Pasaman Barat (46 kasus), Mentawai (12 kasus), Pesisir Selatan (36 kasus), Agam (30 kasus), Limapuluh Kota (5 kasus), Tanah Datar (2 kasus), Sawalunto Sijunjung (3 kasus), Padangpariaman (6 kasus), Dharmasraya (10 kasus), Padang (7 kasus) dan Bukiktinggi (1 kasus).

“Angka tersebut didapat berdasarkan hasil mapping kasus filaria (kaki gajah) tahun 2006. Penyakit yang bersifat kronis dan akut ini harus cepat diobati, karena dapat menimbulkan cacat menetap berupa pembesaran kaki, lengan, dan alat kelamin. Penyakit disebabkan infeksi cacing filaria yang ditularkan oleh 23 jenis nyamuk,” kata Kasubdin Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan (P2PPL) dr H Lazwardi MKes, Jum’at (27/7/2007)

Persoalan dana masih saja menjadi kendala dalam pemberantasan. Banyak dari penderita yang pasrah dan membiarkan kaki mereka membengkak. Satu-satu solusi pemberangusan wabah adalah pengobatan “gratis” massal. Pengobatan di wilayah endemis kaki gajah setidaknya dilakukan setahun sekali.

Pengobatan dilakukan hingga lima sampai 10 tahun sejak sebuah daerah ditemukan endemis. Dengan pengobatan massal ini diharapkan mata rantai penyebaran kaki gajah dapat diputus. Namun , pengobatan massal menyeluruh dan serempak di Kabupaten /Kota di Sumbar tetap saja tersendat dana.

Baru-baru ini, tepatnya tanggal 16 Juli 2007, Pemko Bukittinggi telah melakukan pengobatan gratis Filariasis. Pengobatan massal diselenggarakan pada Posyandu dan Puskesmas di seluruh wilayah Kota Bukittinggi.

“Filariasis mesti diwaspadai dan harus dilakukan antisipasi serta pencegahan menyeluruh agar tidak menyebar. Penyakit ini dapat menyebabkan cacat seumur hidup kepada si penderita,” ujar Walikota Drs H Djufri.

Naifnya, langkah tadi tidak dilakukan ‘serentak’ oleh 18 kab/kota lain di Sumbar. Kenapa? Apakah dana kembali menjadi kendala? Padahal, kalau ingin melakukan pemberangusan wabah filariasis harus dilakukan serentak dan menyeluruh. Dengan harapan, wabah kaki gajah bisa dimusnahkan dari ranah minang!(*)


0 Responses to “Kaki Gajah Ancam Sumbar”



  1. Tinggalkan sebuah Komentar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: