07
Nov
07

Virus Itu Bernama Togel

Paras lelaki paruh baya itu terlihat lusuh. Goresan ketuaan diwajahnya kian jelas. Dengan sorot mata kosong, ia mencoba tegar menjawab pertanyaan para wartawan di Poltabes Padang sore itu.

” Ka baa juo lai. Awak tapaso manjua togel ko. Karajo dak adoh. Anak lah gadang-gadang. Pitih nan takumpua, cukuik pambali bareh jo samba sajo nyo. Kini ambo tatangkok. Antah jo apo anak jo bini ambo makan lai,” ujar Udin (nama pinjaman), seorang penjual togel terjaring polisi.

Lelaki berusia 55 tahun ini menuturkan, profesi sebagai penjual judi toto gelap (togel) baru dilakoninya 6 bulan. Sebelumnya, ia berprofesi sebagai PKL (Pedagang Kaki Lima) di salah satu pasar rakyat di Kota Padang. Himpitan ekonomi dan kerasnya kehidupan membuatnya terpaksa banting stir. Tak ada pilihan lain, togel pun dipilih sebagai alternatif mencari uang cepat dan mudah. Kendati melanggar hukum, faktor ekonomi membuatnya nekad. Miris memang. “ Kadang dapek pitih Rp 75.000, kadang labiah stek. Lumayan lah, pancukuik-cukuik an pambali bareh jo balanjo harian si amak paja di rumah,” lirihnya.Sepenggal penuturan diatas, menandakan judi toto gelap masih ada di Kota Padang. Kendati penjualannya tak se-vulgar tahun lalu, para penjual mimpi tersebut tetap saja digandrungi dan dinanti-nanti peminat. Kenapa para cukong tak pernah ketangkap? Terlalu licinkah si cukong ? Heran..Meskipun telah dijadikan target operasi semenjak dahulu, tetap saja tidak dijumpai dimana tempat persembunyiannya. Khusus Kota Padang, maraknya kembali togel tak ubah mewabah kembali virus lama yang sudah dilemahkan.

Tahun 2006, Walikota Padang Fauzi Bahar boleh berbangga diri. Sebab, bersama sejumlah ormas/organisasi kepemudaan orang nomor satu Kota Padang ini berhasil membuat penjual dan cukong togel ketar-ketir. Buktinya, 99 persen virus togel tadi berhasil dilemahkan.

Bagaimana di tahun 2007 ? Virus ini terlihat kembali berjangkit. Buktinya; di bulan Mei 2007, jajaran Mapoltabes Padang telah meringkus 4 penjual togel. Sekadar diketahui, seseorang terseret ke arena meja judi dikarenakan berbagai sebab. Yang paling umum, ingin cepat kaya tanpa terlalu banyak kerja keras. Pejudi sendiri terdiri dari beberapa golongan. Antara lain: kelas menengah ke atas dan kelas menengah ke bawah.

Golongan pertama menghabiskan uangnya karena hobi, ingin tambah kekayaan, mengisi waktu luang atau karena memang seorang petaruh. Yang kedua ingin mengubah nasib yang tak kunjung membaik. Masyarakat miskin, contohnya. Meraka rata-rata berjudi karena ingin mengubah nasib. Frustasi lantaran kerja keras banting tulang, tapi tak ada perbaikan.

Mereka ini bisa disebut penjudi karena masalah struktural. Kemiskinannya terbentuk karena faktor struktural. Mentalitasnya sebagai penjudi terbentuk karena problem struktural. Semuanya saling terkait dan membentuk lingkaran sosial yang sulit diputuskan. Tindakan penangkapan yang dilakukan aparat berwajib pun terkesan ibarat “obat rawat jalan”. Ajang judi diberantas, kartu domino disita, toto gelap (togel) diintai dan pengedarnya dibekuk.

Tapi (maaf), setelah ditangkap, ada beberapa oknum terkait justru memperkenalkan tersangka kepada permainan birokrasi yang busuk. Suap sana sogok sini, penangguhan pun dilakukan. Tersangka kembali menghirup udara bebas. Dan kembali tetap menjadi pengedar kupon togel.

Imbasnya, berita-berita tentang kemampuan (keberhasilan) aparat membekuk bandar judi dipandang sinis masyarakat. Mereka memberantas togel tapi membiarkan kemiskinan seolah-olah bukan lahan subur penyebab kecenderungan orang menjadi petaruh. Peredaran judi togel memang tidak pernah mati. Ia tetap saja ada.

“Sekarang ini para pemain judi togel terutama para pengecer dan agennya bermain cukup rapi sehingga sangat menyulitkan petugas untuk membuktikannya,” ujar Syaiful (45), seorang warga yang mengaku pernah menjadi penggila togel. Meskipun para pengedar maupun agen judi togel bermain rapi, fakta di lapangan peredaran judi togel ini semakin hari semakin digemari kalangan pencandu judi. Betapa tidak, kemenangan yang dijanjikan bila nomornya “tembus” sangat menggoda.

Seperti dulu, bila dua angka tembus akan memporeleh Rp 60.000,00 padahal si pemasang hanya mengeluarkan uang Rp 1.000, sedangkan kalau tiga angka akan memperoleh Rp 350.000 dan selanjutnya dengan nilai hadiah yang menggiurkan. Fenomena inilah yang harus disikapi semua kalangan. Tidak hanya aparat. Sebab, memberantas togel butuh keseriusan. Agar togel tidak lagi membandel dan merasuki pikiran masyarakat. Sekadar diingat, mimpi hanyalah bunga tidur. Jadi, untuk apa dibeli ? (*)


0 Responses to “Virus Itu Bernama Togel”



  1. Tinggalkan sebuah Komentar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: