03
Nov
07

Cap Banteng Bikin Ganteng

Baa..? Lah mantap Pren?
Lah… lah cantik mato mpak den.
Lai ganteng ? Lai bantuak vokalis Superman Is Dead atau Endang Soekamti ?
Persis bana ko ha.
Baa jalan wak lai.
Kamaa..
Ngamen lai. Dak ka makan ?
Pakai stek a..bia samo ganteng wak.

Begitulah kira-kira perbincangan antara dua anak jalanan berumur belia disebuah sudut pertokoan. Celotehan tadi, seolah dijadikan “persyaratan” turun ke jalanan. Sebelum gitar butut dan giring-giring disandang, performen sudah harus oke–versi mereka. Pakaian urakan, sedikit kumal, mata merah separoh meram (seperti orang ngantuk) sepertinya sudah merupakan sebuah ‘kebanggaan’. Sebuah fenomena kehidupan jalanan yang cukup memiriskan.

Ditengah keterbatasan dan kesulitan, mereka tetap mementingkan trademark kota. Style dari para group band pujaan, terlihat sudah merasuki keseharian mereka. Terbius gaya, logat serta tingkah-polah. Keterbatasan kantong, terlihat tak dijadikan penghalang. Yang penting, asal bisa terlihat gaul dan modis. Ektrimnya, mengisap Lem (banteng/aibon) pun dilakoni. Sekadar hiburan serta selingan. Resikonya pun lebih kecil dari narkoba. Sebuah fenomena dari sisi gelap pergaulan jalanan yang mulai merambah Sumbar.Kota Bukittinggi, misalnya. Kota yang lebih dikenal dengan kota wisata ini, termasuk salah satu kota yang diserbu para anjal. Keberadaan mereka pun nyaris dikonotasikan identik dengan gaya kehidupan negatif. Seperti pergaulan bebas, narkoba, menghisap lem dan sebagainya. Yang ujungnya, mengarah ke kejahatan serta meresahkan masyarakat. Pernyataan tadi tidak seluruhnya benar. Kendatipun ada, itupun cuma dilakukan beberapa orang dari mereka. Terutama yang sudah tidak bisa diarahkan lagi.Boy (25), nama pinjaman, seorang pengamen yang kerap berada dijalanan kepada penulis mengakui kalau kebiasaan make baik itu narkoba atau ngelem masih ada dijumpai ditengah para rekan-rekan dan adik-adiknya yang berkeliaran dijalanan.Lelaki yang dulunya sempat mengecap pendidikan hingga kelas 2 SMA tadi, mengakui dirinya dulu juga pernah terjebak perlakuan tersebut. Tapi, setelah sakit yang dideritanya, membuat dirinya sadar. Bahwasanya perbuatan itu merupakan perbuatan salah dan menyiksa diri sendiri. Ia menyebutkan, kegiatan mengamen dilakoninya sekadar melampiaskan rasa seni. Hasil juga lumayan. Dapat menutupi kebutuhan hidup harian. Kadang Rp 20 Ribu, kadang mencapai Rp 60 Ribu.

Lain lagi, Rodes (bukan nama sebenarnya). Sebuah pengalaman pribadi khusus ngelem justru pernah dialaminya. Semua ia tak menyangka kalau aroma nikmat lem nakal nyaris merenggut nyawanya. Dituturkannya, dalam sehari ia biasa mengisap empat kaleng lem cap Banteng. Awalnya cuma buat ganteng-gantengan dan gagah-gagahan. Coba – coba pun dilakukan bersama dengan rekan seusia dan seprofesi dijalanan.

Kian hari ia merasa ketagihan, awalnya menggunakan sedikit demi sedikit, dan semakin hari bertambah banyak. Ia semakin tidak bisa tenang apabila tak menggunakan lem. Awalnya, satu kaleng habis dalam waktu seminggu.

Klimaknya, justru habis empat kaleng sehari. Lem dibeli dengan harga Rp 4000/kaleng. Artinya, setiap hari, harus berusaha keras mendapatkan uang sebanyak Rp 16.000. Parahnya, terkadang ngelem lebih diperlukan dibandingkan nasi. “Kalau pagi, bangun dari tidur, sarapan yang lebih enak digunakan, adalah menghirup isi dari lem. Rasa – rasanya seperti berada di awang-awang, “ ujarnya.

Tubuhnya kian hari kian lemah. Kelakuan bertambah uring – uringan tidak karuan. Rasa “nyaman” sesaat tadi terasa makin membius kesehariannya. Ujung-ujungnya, perilakunya kian brutal. Ia kerap mengganggu ketenangan masyarakat. Terutama yang melintas didepannya.

Mengamenpun dilakukan asal-asalan. Terkadang menggunakan gitar, terkadang tidak. Hanya tepukan tangan saja. Yang terpenting baginya, menerima imbalan dari suara yang ‘’cepreng” yang dijualnya tadi. Seperak, atau dua perak uang hasil mengamen dikumpulkannya. Itupun tidak digunakan untuk makan. Lagi-lagi untuk pembeli perekat (lem). Saat itu, dalam pikirannya hanya satu. Menghirup lem tersebut lebih aman dari pada narkoba. Kalau menggunakan narkoba bisa ditangkap polisi, sementara lem, tidak (aman).

Untung saja, tak lama saat pencapaian klimak ketergantungan ngelem dirinya jatuh sakit. Dalam proses pengobatan, kesadaran muncul. Rasa benci terhadap sarapan uap lem pun datang. Semenjak itu, dirinya kapok dan tidak lagi mau menyentuh kaleng-kaleng keparat tadi. Ia sadar, kalau ‘’sarapan’’tersebutlah yang nyaris merenggut nyawanya.

Rodes ikut menyayangkan para rekan dan adik-adiknya yang masih belum sadar akan bahaya tersebut. Ia sangat berharap kepada pihak berwajib segera menjaring mereka yang kecanduan ngelem tersebut. Selanjutnya, diberikan pengarahan dan bimbingan supaya mereka sadar akan bahaya yang akan dihadang. Khususnya kantor sosial, juga dimintai untuk lebih mengoptimalkan lagi program-program pembinaan.

Seiring usainya cerita tadi, sebuah angkot berhenti. Sebuah tembang ciptaan Guruh Soekarno Putra yang pernah dilantunkan alm Crisye terdengar nyaring. Anak jalanan kumbang metropolitan / Selalu dalam kesepian / Anak jalanan korban kemunafikan / Selalu kesepian di keramaian / Tiada tempat untuk mengadu / Tempat mencurahkan isi kalbu / Cinta kasih dari ayah dan ibu / Hanyalah peri yang palsu.

Wow…sebuah pengalaman pahit memang. Namun, sepertinya bisa dijadikan perbandingan. Bahwa, kerasnya kehidupan dijalan tak membuat para anak-anak jalanan mutlak berkelakuan kasar. Sebagian mereka masih saja berhati nurani.(*)


0 Responses to “Cap Banteng Bikin Ganteng”



  1. Tinggalkan sebuah Komentar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: