22
Okt
09

BARA SEMANGAT DARI KELAS DARURAT

Terik mentari pada Sabtu (17/10) pukul 11:00 WIB, tidak dipedulikan oleh puluhan anak berseragam putih-merah. Mereka tetap bersemangat, kendati berada dibawah tenda terpal setinggi 2 meter berlogo UNICEF.

“Ayo anak-anak, siapa yang masih ingat, tanggal berapa bencana gempa bumi melanda daerah kita?” ujar Zuarti, guru Bahasa Indonesia dihadapan puluhan siswa Kelas III Sekolah Dasar Negeri No 40 Koto Panjang Baruang-Baruang Balantai, Kecamatan Koto XI Tarusan, Kabupaten Pesisir Selatan (Pessel), Sumatra Barat (Sumbar).

Pertanyaan tersebut langsung disahuti puluhan suara centang sembari rebutan mengacungkan tangan.

“Saya bu, saya bu, saya bu,” ucap para siswa serempak.

“Ayo, Sari, coba kamu,” kata Zuarti.

Sosok bertubuh mungil, berseragam lusuh dan kedodoran yang duduk dikursi belakang terlihat langsung berdiri.

“Tanggal 30 September, tepatnya pada hari Rabu sore, Bu,” ucap Sari dengan lantang.

“Bagus, sekarang siapa yang tahu jam berapa kejadiannya,” tanya Zuarti lagi.

Puluhan tangan mungil kembali terlihat mengacung ke udara.

“Saya bu, saya lagi bu, saya tahu bu,” kata para siswa.

“Ayo, Rika, coba jawab,” kata ibu guru bertubuh sedikit gemuk ini.

“Pukul 17:00 WIB, buk,” jawab Rika.

“Pintar, tepatnya pukul 17:15 WIB,” terang Zuarti.

Sementara itu, di ruang yang sama, siswa kelas IV terlihat tidak kalah antusias, walau hanya belajar pendidikan Agama, para bocah terlihat berebutan untuk dapat tampil ke depan kelas.
“Saya bu, Saya bisa bu, saya lagi bu,” katanya.

“Coba kamu Rezi Ahmat, bacakan hapalan ucapan ayat-ayat sholat,” kata Junaida, guru Agama di sekolah itu.

“Baik, bu,” kata Rezi Ahmat, dengan langkah sedikit bergegas menuju ke depan kelas.

Pemandangan menarik ini, terlihat di Sekolah Dasar Negeri (SDN) No 40 Koto Panjang Baruang-Baruang Balantai, Kecamatan Koto XI Tarusan, Kabupaten Pesisir Selatan (Pessel), Sumatra Barat (Sumbar).

Untuk menuju ke sana, harus melewati jembatan gantung sepanjang 50 meter dipinggir jalan raya Padang – Painan, berlokasi 15 meter dari Pasar Tradisional di Nagari Baruang-baruang Balantai, Kecamatan Koto XI Tarusan.
Lalu, dilanjutkan dengan berjalan kaki sejauh 500 meter arah timur, hamparan sawah terlihat menyapa di sepanjang kiri-kanan jalan menuju lokasi.

Kondisi sekolah itu, sangat miris, sebab seluruh bangunan sekolah tersebut hancur akibat gempa pada Rabu 30 September.

Alhasil, seluruh siswa yang rata-rata anak petani dan peladang terpaksa belajar di tenda bantuan UNICEF.

“Namun, kita tetap berbangga dan bersyukur, minat belajar dan semangat para siswa tidak hancur seperti gedung sekolah mereka, kehadiran malah mencapai 95 persen setiap harinya,” kata Desnizar, Kepala SDN No 40 Koto Panjang Baruang-Baruang Balantai kepada ANTARA yang berkunjung ke lokasi, Sabtu pagi.

Sementara ini, ucap Desnizar, karena kondisi darurat, praktek belajar mengajar (PBM) juga terpaksa dibagi atas tiga tahapan, karena mereka baru mendapat satu tenda UNICEF. Siswa pun terpaksa harus belajar dua kelas dalam satu tenda.

“Anak kelas VI dan V, belajar pukul 07:30 – 10:00 WIB, kemudian dilanjutkan anak kelas IV dan III pada pukul 10:00 – 12:30 WIB, sedangkan anak kelas II dan I terpaksa belajar diteras rumah salah seorang warga setempat (dekat sekolah, red),” katanya.

Desnizar berharap, sekolah yang dikepalainya segera mendapat tambahan tenda, kalau bisa berbarengan dengan bantuan buku-buku pelajaran.

“Pasalnya, tidak cuma bangunan yang hancur, seluruh buku-buku pelajaran ikut hancur, diguyur hujan dan tertimpa reruntuhan tembok bangunan sekolah,” katanya.

Tenda Tambahan dan Buku Pelajaran
Kepala Dinas Pendidikan Pessel, Dian Wijaya yang berkunjung ke lokasi pada Sabtu siang, langsung mengabulkan permintaan tadi.

“Saya terharu melihat semangat belajar para siswa di sini, seluruh ruang sekolah mereka hancur, tapi semangat belajar mereka tetap membara, mengalahkan ketakutan atas guncangan gempa,” katanya.

Menyoal permintaan pihak Sekolah, tambah Dian, pemkab bakal segera mengabulkan.

“Untuk tenda, hari ini juga Sabtu, red, kita akan mendirikannya di sini, sedang untuk buku pelajaran, segera diantar dalam watu dekat,” katanya.

Yang jelas, ucapnya lagi, PBM jangan sampai terganggu dan tetap harus berlangsung.

“Untuk perbaikan bangunan, akan diupayakan oleh pemkab melakukan renovasinya,” kata Dian.

SDN No 40 Koto Panjang Baruang-Baruang Balantai, adalah satu dari puluhan bangunan sekolah terparah dan hancur akibat gempa di Pessel.

Di mana, sekitar 120 unit banguan sekolah, ditemui dalam kondisi rusak parah, terbanyak dialami bangunan sekolah dasar.
“Ini merupakan hasil laporan pendataan dilakukan tim verifikasi dari Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga (Disdikpora, red) Sumbar, yang turun mengecek langsung ke Pessel,” kata Dian.

Di antaranya, gedung Taman Kanak-kanak 4 unit, SD 81, SMP 19, SMA 11, dan SMK 5 unit.

Untuk ruang kelas, ucap Dian, tim verifikasi menemukan total kerusakan sebanyak 446 ruang kelas.

Di antaranya, 117 ruang rusak berat, 132 rusak sedang, dan 197 rusak sedang.

“Khusus sekolah dasar, 85 ruang kelas rusak berat, 67 rusak sedang, dan 106 rusak ringan,” katanya.

Menyikapi hal tersebut, Pemkab Pessel sudah menditribusikan sejumlah tenda sekolah bantuan UNICEF, terutama ke sekolah rusak berat.

“Hingga Selasa kemarin, pemkab mendapat bantuan 23 unit tenda sekolah dari UNICEF, sebagian sudah dibagikan, dengan harapan para siswa dapat terus sekolah kendati bangunan gedung mereka hancur,” katanya.

Menyoal kerugian, ucap Dian, pihaknya belum dapat memperkirakan, karena masih dalam perhitungan pihak bersangkutan.

Data pihak Disdik setempat, total bangunan sekolah di Pessel berjumlah 556 unit, terdiri 87 TK, 384 SD, SMP 53, SMA 19, dan SMK 13.

Sedangkan total siswa dari keseluruhan tingkatan sekolah tadi 10.109 orang.

Mendiknas Jamin Rehab Sekolah Rusak
Menteri Pendidikan Nasional (Mendiknas) Bambang Sudibyo menjamin akan merehabilitasi semua gedung sekolah yang rusak akibat gempa di Sumatra Barat.

“Semua gedung sekolah yang rusak pasti direhab sehingga pendidikan di Sumatra Barat bisa kembali berjalan. Biasanya dua tahun sudah bisa berjalan normal,” katanya di sela-sela peresmian perluasan Perpustakaan Depdiknas di Jakarta, Kamis lalu, seperti diwartakan ANTARA.

Saat dirinya ke Sumbar, katanya, Gubernur setempat juga telah mengupayakan bantuan bagi sekolah-sekolah rusak di kabupaten/kota yang terkena gempa.

“Untuk setiap kelas yang rusak berat akan dibangunkan pengganti kelas darurat dengan alokasi APBD Rp8 juta, sehingga dalam seminggu kelas darurat sudah bisa digunakan belajar,” katanya.

Jumlah gedung sekolah yang rusak dan hancur akibat gempa 7,9 SR di Sumbar (30/9) yang terdata hingga kini telah mencapai 1.929 unit.

Data Sarkorlak Penanggulangan Bencana Sumbar menyebutkan, dari 1.929 gedung sekolah yang terdata rusak itu, sebanyak 889 unit di antaranya rusak berat dan tidak dapat digunakan lagi.

Sementara gedung sekolah yang mengalami rusak sedang mencapai 581 unit dan rusak ringan 459 unit.

Kerusakan gedung sekolah paling banyak terdata di Kota Padang yakni 561 unit dalam kondisi rusak berat, 377 rusak sedang dan 351 rusak ringan.

Di Kabupaten Padang Pariaman yang rusak berat 196 unit, dan 14 rusak ringan.

Gedung sekolah lainnya yang rusak berat, masing-masing di Kota Pariaman 41 unit, Kabupaten Pasaman Barat (21), Tanah Datar (5), Kabupaten Solok (4) dan masing-masing tiga unit di Kota Solok, Padang Panjang, Kabupaten Pasaman dan Kepulauan Mentawai.

Jam sudah menunjukkan pukul 12:30 WIB, para siswa terlihat mulai meninggalkan sekolah “tenda” mereka dan berencana pulang.

Entah sengaja atau tidak, Suci dan Rezi Ahmat, dua siswa yang terlihat energik dalam belajar tadi, terlihat berjalan beriringan.

Baru lima belas meter berjalan, mereka serempak melongok ke arah gedung sekolah mereka yang hancur.

Ke dua bocah cilik tadi, tiba-tiba mengacung jempol ke arah rombongan Diknas Pessel yang masih berada di lokasi, seolah mengisyaratkan pesan.

“Gempa tak menyurutkan semangat kami para siswa miskin untuk tetap sekolah, kendati berpanas-panasan di bawah tenda darurat,”
Usai mengacungkan tangan, keduanya terlihat membalikan badan, dan berlarian menuju arah rumah masing-masing.

22
Okt
09

DI BAWAH TERPAL, ASA ITU KUKEJAR

“Tuhan selalu melindungi keluarga kami dalam keadaan sehat.”
Kalimat itu ditulis oleh Sari (9), gadis cilik siswi kelas III Dasar Negeri No 40 Koto Panjang Baruang-Baruang Balantai, Kecamatan Koto XI Tarusan, Kabupaten Pesisir Selatan (Pessel), Sumatra Barat (Sumbar), pada buku tulisnya.

“Ibu guru menyuruh kami para siswa untuk membuat cerita dan pengalaman bencana gempa Rabu lalu,” ucapnya polos kepada ANTARA, Sabtu (17/10) siang.

Menurut dia, kalimat itu adalah ucapan yang doa dilontarkan orang tuanya sesaat usai gempa menghoyak pada Rabu 30 September lalu.

Putri bungsu dari tiga bersaudara itu, merupakan anak dari Buyung berprofesi menjahit, dan Ayek Ati, buruh tani. Rumah yang ditempatinya di Kampung Gurun Jua Nagari Baruang-baruang Balantai, roboh.

Tak cuma itu, mesin jahit kesayangan ayahnya, yang biasa digunakan sebagai penyambung hidup ikut hancur ditimpa reruntuhan dinding tembok rumah yang tumbang.

Alhasil, ia dan keluarga terpaksa tidur dibawah tenda darurat bantuan pemkab Pessel.
Namun, satu yang patut diacungkan jempol kepada keluarga korban gempa ini, mereka tidak larut terhadap bencana yang melanda.

Kedua orangtua Sari, selalu memberikan semangat kepada anaknya supaya tetap terus menuntut ilmu.

“Sari ingin tetap sekolah, ayah-ibu juga terus mendukung keinginan itu,” katanya.

Malah, jarak 500 meter yang ditempuhnya setiap hari menuju sekolah, tidak dihiraukannya.

“Ke sekolah hanya berjalan kaki, itu sudah biasa, kadang bermain ayunan dulu di jembatan gantung,” kata Sari.

Di Sekolah, Sari termasuk siswa cerdas, buktinya, gadis cilik bertubuh mungil ini terlihat dengan mudah menyelesaikan tugas pelajaran Bahasa Indonesia yang diberikan gurunya, Sabtu siang itu.

Tak jarang, ia juga menjadi tumpuan teman sebangku, terutama dalam membantu menerangkan pertanyaan dan bagaimana cara mengerjakan jawaban atas tugas diberikan guru.

“Eit..dak boleh nyontek ya…tadi kan alah Sari ajarkan cara membuat dan menjawab,” candanya kepada teman sebangku yang ingin mencontek kala itu.

Berprestasi
Zuarti, guru Bahasa Indonesia yang juga Wali Kelas III setempat, mengakui kalau Sari memang termasuk siswa cerdas di sekolah tersebut.

“Setiap semester, nilainya selalu saja baik dan masuk dalam sepuluh besar,” kata Zuarti.

Menurut dia, dari ratusan siswa di sekolah itu, rumah milik keluarga Sari merupakan bangunan terparah terkena dampak gempa.
Namun, semagat belajar putri bungsu itu tidak pernah pudar, malah saat hari pertama sekolah, dia termasuk satu dari beberapa siswa yang datang duluan ke sekolah.

“Bu, kita tetap sekolah kan, bu?” tanya Sari bersama beberapa teman-temannya kala itu.

Melihat semangat tadi, para guru segera menggelar rapat kilat, dan memutuskan minta bantuan tenda darurat ke pemkab setempat.

Dan, Alhamdulillah, kita diberi tenda besar oleh UNICEF.

Sekolah Dasar Negeri (SDN) No 40 Koto Panjang Baruang-Baruang Balantai, Kecamatan Koto XI Tarusan, Kabupaten Pesisir Selatan (Pessel), Sumatra Barat (Sumbar), adalah salah satu dari ratusan gedung sekolah rusak akibat gempa.

Akses menuju ke sana, harus melewati jembatan gantung sepanjang 50 meter dipinggir jalan raya Padang – Painan, berlokasi 15 meter dari Pasar Tradisional di Nagari Baruang-baruang Balantai, Kecamatan Koto XI Tarusan.
Kemudian, dilanjutkan dengan berjalan kaki sejauh 500 meter arah timur, hamparan sawah terlihat menyapa disepanjang kiri-kanan jalan menuju lokasi.

Alhasil, seluruh siswa yang rata-rata anak petani dan peladang terpaksa belajar di tenda (sekolah tenda).

“Namun, kita tetap berbangga dan bersyukur, minat belajar dan semangat para siswa tidak hancur seperti gedung sekolah mereka, kehadiran malah mencapai 95 persen setiap harinya,” kata Desnizar, Kepala SDN No 40 Koto Panjang Baruang-Baruang Balantai.

Praktik belajar mengajar (PBM) dibagi atas tiga tahapan, dan dalam satu tenda terdapat dua kelas belajar serempak. “Anak kelas VI dan V, belajar pukul 07:30 – 10:00 WIB, kemudian dilanjutkan anak kelas IV dan III pada pukul 10:00 – 12:30 WIB, sedangkan anak kelas II dan I terpaksa belajar diteras rumah salah seorang warga setempat (dekat sekolah, red),” katanya.

Usulkan Beasiswa
Kepala Dinas Pendidikan Pessel, Dian Wijaya meminta kepada para Kepala Sekolah supaya mendata rumah para siswa berpretasinya yang rubuh akibat gempa.

“Kita minta, sekolah segera mendata rumah para siswa berprestasi yang hancur akibat gempa, karena pemkab bakal mengupayakan bantuan berupa bea siswa kepada mereka,” kata Dian Wijaya kepada ANTARA di Painan, Pessel, Minggu.

Menurutnya, bantuan itu segera direalisasikan dalam waktu dekat.

“Karena, kita tidak ingin, semangat belajar dan prestasi siswa berkurang apalagi sampai hilang akibat bencana gempa,” katanya.

Menyoal perbaikan bangunan, tambahnya, pemkab tengah mengupayakan usulan bantuan renovasi ke pihak pusat.

“Mudah-mudahan segera cair, sekolah yang rusak segera dibangun kembali,” katanya.

Di Pessel, sekitar 120 unit banguan sekolah, ditemui dalam kondisi rusak parah, terbanyak dialami bangunan sekolah dasar (SD).
Di antaranya, gedung Taman Kanak-kanak 4 unit, SD 81, SMP 19, SMA 11, dan SMK 5 unit.

Untuk ruang kelas, tim verifikasi menemukan total kerusakan sebanyak 446 ruang kelas.

Di mana, 117 ruang rusak berat, 132 rusak sedang, dan 197 rusak sedang.

“Khusus Sekolah Dasar, 85 ruang kelas rusak berat, 67 rusak sedang, dan 106 rusak ringan,” katanya.

Menyikapi hal tersebut, Pemkab Pessel sudah menditribusikan sejumlah tenda sekolah bantuan UNICEF, terutama ke sekolah rusak berat.

“Hingga Selasa kemarin, pemkab mendapat bantuan 23 unit tenda sekolah dari UNICEF, sebagian sudah dibagikan, dengan harapan para siswa dapat terus sekolah kendati bangunan gedung mereka hancur,” katanya.

Menyoal kerugian, ucap Dian, pihaknya belum dapat memperkirakan, karena masih dalam perhitungan pihak bersangkutan.

Total bangunan sekolah di Pessel berjumlah 556 unit, terdiri 87 TK, 384 SD, SMP 53, SMA 19, dan SMK 13.

Sedangkan total siswa dari keseluruhan tingkatan sekolah tadi 10.109 orang.

Data Sarkorlak Penanggulangan Bencana Sumbar menyebutkan, dari 1.929 gedung sekolah yang terdata rusak itu, sebanyak 889 unit di antaranya rusak berat dan tidak dapat digunakan lagi.

Baju Putih dikenakannya Sari, memang lusuh dan kedodoran (bukan seukuran, red).

Jilbab, rok, sepatu dan tas sandang hitamnya juga sudah sobek di sana-sini.

Tapi, satu yang patut diacungkan jempol, dia punya semangat, cerdas dan cita-cita.

“Sari ingin jadi tukang insiyur (Arsitek maksudnya, red), supaya bisa membangun rumah Sari yang runtuh, dan membantu ayah-ibu,” akunya polos.
Pengakuan itu, terdengar ibarat ucapan doa dari seorang siswa korban bencana gempa, dia tetap berupaya mengejar cita-cita tulusnya, kendati belajar di bawah sekolah terpal (sekolah tenda bantuan UNICEF).

12
Mar
09

Darzin, Pendekar Rusa dari Bayang

Rusa Peliharaan

Rusa Peliharaan

Huiii…,Rusdi, Rosni mandi lai, baok anak-anak tu, alah sore mah, capek, capek(hui, Rusdi Rosni mandi lagi, bawa anak-anak, hari sudah sore, cepat cepat).

Minggu (8/3/09) pukul 16.00 WIB, sinar mentari masih terasa menyengat di Kampung Kubang Nagari Koto Berapak Kecamatan Bayang Kabupaten Pesisir Selatan, Sumbar.

Seorang lelaki tua terlihat bergegas menuju hamparan padang rumput seluas 25 x 25 meter di pinggir sungai Batang Bayang. Ia kembali berteriak..Huiii.

Lanjutkan membaca ‘Darzin, Pendekar Rusa dari Bayang’

01
Agu
08

BATUBARA PESSEL

Batu bara di pelabuhan panasahan pessel

ANTARA, (24/7)—-Potensi Batu Bara Kabupaten Pessel mulai menggeliat. PT Kelola Sumber Daya Nagari, pemilik ijin KP Ekploitasi mulai terlihat menumpuk hasil tambang Batu Bara dari Kampung Panadah Nagari Tapan Kecamatan Basa Ampek Balai Tapan di Pelabuhan Panasahan IV Jurai Painan Pessel, SUMBAR. Stok file Batu Bara tersebut stanbye dan siap dijual ke pembeli yang datang. FOTO: Tusrisep

01
Agu
08

BERSIHKAN LONGSOR

Eskavator bersihkan longsor di Batu Biawak IV Jurai.jpg

ANTARA,(22/7)—- Alat berat jenis Eskavator milik Pemkab Pessel terlihat bekerja membersihkan material longsoran bukit yang menimbun badan jalan di Batu Biawak Kecamatan IV Jurai Pessel, SUMBAR pada  Selasa (22/7/2008 ) siang.  Malam sebelumnya, material longsor berupa tanah dan batu besar menghadang pengguna jalan dan mengakibatkan antrean panjang selama 2 jam di lokasi. FOTO: Tusrisep

01
Agu
08

PIKUL SEMBAKO

Warga Taluak Kasai berjalan kaki menuju rumahnya.jph

ANTARA, (22/7)—-Dua warga Sungai Bungin terlihat memikul sembako yang baru saja dibelinya melewati tanah longsoran Bukit di Kampung Taluak Kasai, Kecamatan Batang Kapas, Pessel, SUMBAR. Keduanya rela berjalan kaki sejauh 5 kilometer untuk membeli sembako karena 7 titik longsor di Kampung Taluak Kasai menuju Sungai Bungin hingga Selasa (22/7/2008 ) sore, belum dapat dibersihkan. Dua Kampung tersebut masih terisolasi dan tidak bisa dilewati kendaraan. Alhasil, harga bahan kebutuhan pokok di lokasi kejadian itu, kini melonjak naik Rp 2.000 sampai Rp 3.000/itemnya. Alat berat Pemkab Pessel dijadwalkan bisa membantu pada Rabu (23/7/2008 ). FOTO: Tusrisep

01
Agu
08

Evakuasi

Msk sunngai 3 oke

ANTARA, (19/7)—-Polisi, SAR, Pol PP bersama Warga setempat terlihat tengah berupaya mengeluarkan mobil Kijang Grand Toyota Kijang Grand warna Abu-abu Metalik bernopol BA 2438 JM dari dasar Sungai Batang Tarusan Kampung Pasar Minggu Nagari Duku Kecamatan Koto XI Tarusan, Pessel, Sumbar pada Sabtu pukul 10.45 WIB. Kijang bertolak dari Muko-muko Jumat (18/7/2008 ) pukul 14.00 WIB dengan tujuan Kinali Pasaman Barat. Malang, sopir mengantuk dan mobil terjun ke sungai Sabtu (19/7) pukul 04.30 WIB. Tiga dari 11 penumpang pulang kendurian keluarga ini, tewas tenggelam di Tempat Kejadian Perkara (TKP). Sedang delapan lainnya mengalami luka-luka. FOTO: Tusrisep.

01
Agu
08

HEMAT Ala PLN

Lampu hdp siang hariANTARA, (16/7)—Himbauan hemat listrik yang digaungkan PT PLN sepertinya hanya berlaku untuk konsumen. PT PLN sendiri selaku produsen listrik terlihat tidak melaksanakan penghematan. Salah satu bukti, Lampu Jalan di pertigaan Jalan M Hatta Painan, Pessel, SUMBAR (samping Kantor Pos dan Giro Painan) tetap saja menyala pada Rabu (15/7/2008 ) pukul 10.00 WIB. FOTO: Tusrisep

07
Jun
08

Kisah Pilu Sepeda Biru …

Sepeda balap tuaSEPEDA balap tua itu, terlihat kian lusuh. Tersandar di sudut lokasi parkir Unit Laka Poltabes Padang Jalan Mangunsarkoro. Basah dipercik hujan. Kering disengat terik mentari. Cat birunya, mulai terkelupas. Sekujur batang besinya mulai digerogoti karat di sana-sini.

Sepeda itu milik Asprizen (26). Lelaki lajang warga Pasir Ulak Karang Padang Utara Kota Padang. Ia korban kecelakaan lalu lintas pada 8 Mei 2008 lalu. Persisnya, di Jalan Jhoni Anwar Ulak Karang pukul 11.30 WIB. Goresan dibatang besi sepeda bekas diseruduk Vespa bernopol BA 7091 J ditunggangi lelaki paruh baya, Zulbakri.

Asprizen berasal dari keluarga serba kekurangan. Tinggal dipemukiman nelayan pantai Ulak Karang. Berjarak 10 meter dari bibir pantai. Rumahnya miris sekali. Berdinding papan tua lapuk. Lantainya berpasir. Diruang tamu, tersusun acak sofa usang. Sobek disana – sini. Tempelan kertas kado beragam didinding. Sepertinya disengaja sebagai pemanis. Penutup lobang – lobang bekas girikan kumbang.

Lanjutkan membaca ‘Kisah Pilu Sepeda Biru …’

06
Jun
08

Kuasa Batik di Persidangan

Sidang hamer dan faham di pengadilan tinggi (14)UNIK. Mungkin inilah yang tergambar dari persidangan ke dua sengketa Pilkada Sawahlunto di Pengadilan Tinggi Padang, Jumat (6/6/2008 ) siang. Terutama menyoal pakaian digunakan pihak kuasa hukumnya.

Kalau di persidangan umum (Pidana dan Perdata) para kuasa hukum ini terlihat mengenakan toga dan baju rapi, dipersidangan kemarin justru beragam. Ada yang mengenakan jas, kemeja plus dasi malah ada berkemeja batik lengan pendek.

Lanjutkan membaca ‘Kuasa Batik di Persidangan’




BRANKAS Tulisan

a

PENGUNJUNG

hit counter image

MAP

KOMUNITAS

Photobucket Photobucket